Standard & Poor’s mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada BBB dengan prospek stabil pada 13 Juli 2026. Keputusan itu menjaga posisi Indonesia dalam kategori investment grade di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Presiden Prabowo Subianto menempatkan penilaian tersebut sebagai pengakuan eksternal atas fundamental ekonomi nasional. Peringkat itu juga disampaikan bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi semester I-2026 yang mencapai 5,45 persen.
Penilaian Eksternal terhadap Fundamental Ekonomi
Standard & Poor’s menilai prospek pertumbuhan Indonesia tetap solid karena kebijakan makroekonomi yang berhati-hati. Lembaga pemeringkat itu juga melihat pengelolaan beban utang Indonesia berada pada jalur yang berkelanjutan.
Prabowo menyampaikan penilaian tersebut saat Sidang Paripurna Pembukaan Masa Sidang I DPR di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026. Ia menekankan bahwa keputusan lembaga pemeringkat internasional memiliki arti penting bagi persepsi terhadap ekonomi Indonesia.
“Dunia melihat dan memantau sikap kita,” ujar Prabowo ketika menjelaskan keputusan Standard & Poor’s. Ia menambahkan, “Ini bukan kata pemerintah, ini bukan kata saya, ini penilaian mereka terhadap kita.”
Pertumbuhan Tertinggi dalam 13 Tahun
Di sisi domestik, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen pada semester I-2026. Prabowo menyebutnya sebagai capaian pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
Angka pertumbuhan tersebut merujuk pada data Badan Pusat Statistik yang dilansir Investor Daily. Pemerintah menilai capaian itu memperlihatkan daya tahan ekonomi nasional saat tekanan dari luar negeri masih berlangsung.
Kenaikan harga energi dunia menjadi salah satu tantangan yang dihadapi perekonomian. Suku bunga global yang masih tinggi dan gangguan jalur perdagangan internasional turut menambah risiko.
Menurut Prabowo, berbagai tekanan tersebut belum menggoyahkan aktivitas ekonomi dalam negeri. “Namun, di tengah ketegangan dan ketidakpastian global tersebut, kita bersyukur perekonomian kita tetap berdiri tegak,” ujarnya.
Ruang Fiskal Dijaga melalui Defisit Rendah
Kinerja anggaran negara hingga akhir Juli 2026 menjadi faktor lain yang dipaparkan pemerintah. Penerimaan negara tumbuh 21,3 persen, sedangkan belanja negara meningkat 18,2 persen.
Meski belanja bertambah, defisit APBN tetap berada pada level 0,91 persen terhadap produk domestik bruto. Pemerintah menggunakan belanja tersebut untuk menjaga daya beli masyarakat dan memperkuat sektor pelayanan publik.
| Indikator | Realisasi | Periode |
|---|---|---|
| Pertumbuhan ekonomi | 5,45 persen | Semester I-2026 |
| Pertumbuhan penerimaan negara | 21,3 persen | Hingga akhir Juli 2026 |
| Pertumbuhan belanja negara | 18,2 persen | Hingga akhir Juli 2026 |
| Defisit APBN terhadap PDB | 0,91 persen | Hingga akhir Juli 2026 |
Prabowo menyatakan pertumbuhan belanja dan pengendalian defisit dapat dijalankan secara bersamaan. “Walaupun belanja negara tumbuh, defisit APBN tetap terjaga hanya 0,91% terhadap produk domestik bruto,” kata Prabowo.
Kombinasi pertumbuhan ekonomi, kenaikan penerimaan negara, serta defisit yang terjaga menjadi konteks yang disampaikan pemerintah. Penilaian Standard & Poor’s turut memperkuat gambaran mengenai kondisi makroekonomi Indonesia pada periode tersebut.






