Keberangkatan delegasi Indonesia ke Mesir pada April 1947 membawa tujuan yang sangat besar, yakni memperoleh pengakuan de jure bagi Republik yang baru berdiri. Haji Agus Salim memimpin misi tersebut hingga Indonesia dan Mesir menandatangani perjanjian persahabatan pada 10 Juni 1947.
Di tengah perjuangan diplomatik itu, Agus Salim sempat menarik perhatian di upacara kenegaraan Raja Farouk. Ia datang memakai baju teluk belanga ketika ketentuan istana meminta tamu mengenakan jas panjang.
Pengakuan Mesir yang Penting bagi Republik
Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, tetapi pengakuan dari negara lain tetap dibutuhkan untuk memperkuat kedudukannya di dunia internasional. Pemerintah lalu mengirim tokoh-tokoh Indonesia untuk membangun dukungan dan menjalin perjanjian resmi.
Mesir menjadi salah satu tujuan paling awal dari langkah tersebut. Pada 22 Maret 1946, Mesir mengakui kemerdekaan Indonesia secara de facto dan menjadi negara pertama di dunia yang melakukan pengakuan itu.
Pemerintah Indonesia kemudian menargetkan pengakuan de jure melalui Perjanjian Persahabatan Indonesia-Mesir. Rombongan yang dipimpin Agus Salim berada di Mesir selama tiga bulan sebelum mencapai kesepakatan penting tersebut.
| Waktu | Tahap Diplomasi | Hasil |
|---|---|---|
| 17 Agustus 1945 | Proklamasi kemerdekaan | Indonesia memerlukan pengakuan internasional. |
| 22 Maret 1946 | Pengakuan de facto | Mesir mengakui kemerdekaan Indonesia. |
| April 1947 | Misi Timur Tengah | Delegasi di bawah Agus Salim berangkat. |
| 10 Juni 1947 | Perjanjian persahabatan | Pengakuan de jure ditegaskan melalui perjanjian. |
AR Baswedan, salah satu anggota delegasi, menyebut upacara penandatanganan itu sebagai momen penuh rasa lega dan syukur. Dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim terbitan Sinar Harapan, ia menilai pengakuan tersebut sebagai tanda diterimanya Indonesia di dunia internasional.
“Tidak dapat dibayangkan perasaan saya ketika menyaksikan upacara itu, tak terlukiskan dalam kalimat karena tidak akan pernah sebanding dengan rasa yang menggelora,” kata AR Baswedan. Kutipan itu menggambarkan arti besar hasil diplomasi Mesir bagi para anggota misi.
Teluk Belanga di Hadapan Pengawal Istana
Sebelum perjanjian itu tercapai, delegasi Indonesia memperoleh undangan menghadiri upacara Raja Farouk. Raja Farouk disebut mempunyai peran penting dalam pengakuan terhadap kedaulatan Indonesia.
Masalah muncul karena rombongan tidak membawa jas panjang yang diwajibkan dalam acara tersebut. Agus Salim memilih memakai baju teluk belanga, sementara Rasjidi mengenakan surjan dan blangkon.
Anggota delegasi lain memakai jas biasa, tetapi perpaduan busana mereka tetap tampak berbeda dari ketentuan istana. Menurut kisah yang dimuat CNN Indonesia, para pengawal istana hanya menggelengkan kepala melihat penampilan delegasi Indonesia.
Abdul Mun’im selaku Konsul Jenderal Mesir di Bombay mendampingi rombongan saat itu. Ia menanggapi kejadian tersebut dengan senyum dan berkata, “Memang orang Indonesia ada-ada saja.”
Dokumen Lebih Penting daripada Perjalanan Pulang
Keberhasilan penandatanganan perjanjian disambut berbagai kalangan di Mesir, termasuk Liga Arab, wartawan, dan kelompok intelektual. Pada 18 Juni, sebagian anggota rombongan berangkat pulang ke Indonesia.
Agus Salim meneruskan misi ke negara-negara lain, sedangkan AR Baswedan membawa dokumen perjanjian kembali ke tanah air. Agus Salim berpesan, “Baswedan, bagi saya tidaklah penting apakah saudara sampai di tanah air atau tidak. Yang penting dokumen-dokumen ini sampai di Indonesia dengan selamat!”
Agus Salim kemudian menjabat menteri luar negeri setelah kemerdekaan. AR Baswedan pernah menjabat Menteri Muda Penerangan pada 1946-1947.






