Dedi Mulyadi menempatkan persoalan sampah sebagai pesan penting saat membuka Pasanggrahan Pancarasa di Bandung. Gubernur Jawa Barat itu menilai ruang publik yang baru ditata tidak akan terjaga tanpa tanggung jawab masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan setelah ia menyoroti endapan sampah di salah satu saluran air depan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Menurut laporan VIVA.co.id, tumpukan sampah itu baru diangkat setelah menumpuk selama 32 tahun.
Fasilitas Baru dan Kebiasaan Warga
Dedi menyatakan pembenahan Jawa Barat tidak hanya bergantung pada perbaikan mentalitas pejabat dan birokrasi. Masyarakat juga perlu menjaga kebersihan lingkungan serta fasilitas yang dibangun pemerintah.
Ia menyoroti peran warga dan pedagang di sekitar saluran air dalam menentukan kondisi lingkungan perkotaan. “Yang harus diperbaiki itu bukan hanya mentalitas pejabat, rakyat juga harus diperbaiki,” tutur Dedi.
Menurut Dedi, saluran tersebut digunakan oleh pedagang, tetapi keberadaan sampah di dalamnya tidak diperhatikan hingga menumpuk. Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa penataan fisik kawasan perlu disertai kepedulian sehari-hari dari pengguna ruang kota.
Gedung Sate dan Gasibu Kini Menjadi Satu Kawasan
Pesan itu mengiringi pembukaan Pasanggrahan Pancarasa, nama baru untuk halaman Gedung Sate yang kini menyatu dengan Lapangan Gasibu. Kawasan tersebut resmi dibuka untuk masyarakat pada Senin, 17 Agustus 2026.
Area yang berada di pusat Kota Bandung itu disiapkan sebagai ruang terbuka hijau dan ruang bersama. Integrasi kawasan mengubah hubungan ruang antara Gedung Sate dan lapangan yang berada di depannya.
| Unsur Proyek | Rincian |
|---|---|
| Pelaksanaan | Pertengahan April hingga pertengahan Agustus 2026 |
| Anggaran penataan | Hingga Rp15 miliar |
| Area yang diintegrasikan | Halaman Gedung Sate dan Lapangan Gasibu |
| Perubahan akses | Jalan Diponegoro menyatu dengan kawasan publik |
Pemerintah Provinsi Jawa Barat memulai revitalisasi pada pertengahan April 2026 dan menyelesaikannya pada pertengahan Agustus 2026. Pembangunan jalan baru di sekitar Gasibu turut berdampak pada sejumlah pohon di kawasan tersebut.
Jalan Diponegoro kini menyatu dengan area Gedung Sate dan Gasibu. Selain itu, jalan baru dibangun mengelilingi lapangan untuk mendukung susunan kawasan yang lebih terhubung.
Filosofi Lima Indra
Dedi menjelaskan nama Pasanggrahan Pancarasa dipilih dengan makna tertentu. Pasanggrahan berarti tempat berkumpul, sedangkan pancarasa merujuk pada lima indra manusia.
Filosofi tersebut disampaikan sebagai ajakan agar mata, telinga, hidung, lidah, dan hati dipakai secara baik dalam kehidupan bermasyarakat. “Pasanggrahan itu tempat berkumpul. Pancarasa artinya kita punya lima rasa: punya mata harus melihat, punya telinga mendengar, hidung menghisap, lidah berucap, dan punya hati harus ikhlas,” ujar Dedi.
Penataan kawasan juga memindahkan Prasasti Sapta Taruna dari tengah halaman depan Gedung Sate. Prasasti yang menjadi salah satu simbol Hari Bakti Pekerjaan Umum itu kini berada di bagian belakang Gedung Sate.
Lokasi prasasti yang baru berada di sekitar area parkir dekat pintu masuk Museum Gedung Sate. Pembukaan ruang bersama ini menambah pilihan area publik di pusat Bandung, dengan perawatan kebersihan sebagai tanggung jawab yang terus ditekankan pemerintah.






