Belasan Wilayah Jateng Bisa Tembus 34 Derajat, Angin Kencang Ikut Mengancam

Belasan wilayah di Jawa Tengah diperkirakan mengalami suhu maksimum harian hingga 34 derajat Celcius pada pertengahan Agustus 2026. Pada saat bersamaan, angin yang dapat mencapai 35 kilometer per jam meningkatkan potensi api menyebar lebih cepat.

Situasi ini membuat risiko kebakaran hutan dan lahan perlu diantisipasi lebih awal. Warga diminta menghindari aktivitas yang dapat memunculkan api di tengah kondisi lahan dan vegetasi yang mengering.

Wilayah yang Perlu Meningkatkan Kewaspadaan

Prakirawan Cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang, Ferry Oktarisa, menyebut Sragen, Grobogan, Blora, dan Rembang sebagai bagian dari wilayah dengan potensi suhu tinggi. Pati, Jepara, Demak, Kendal, Batang, Pemalang, Semarang, dan Pekalongan juga masuk dalam daftar tersebut.

KawasanRentang SuhuSituasi Cuaca
Sejumlah wilayah Jawa Tengah16–34°CKelembapan diprakirakan 45–95 persen
Solo Raya22–34°CCerah berawan hingga berawan

Secara umum, suhu udara di Jawa Tengah berada pada kisaran 16 hingga 34 derajat Celcius. Kelembapan udara diprakirakan berada antara 45 persen sampai 95 persen.

Solo Raya yang meliputi Surakarta, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Karanganyar, Sragen, dan Wonogiri juga berada dalam kondisi hangat. Suhu rata-rata kawasan ini diprakirakan berkisar 22 sampai 34 derajat Celcius.

Sragen tercatat sebagai daerah terpanas di Solo Raya. Ferry Oktarisa menyampaikan gambaran kondisi awal hari dengan kalimat, “Pagi cerah hingga cerah berawan.”

Api Kecil Dapat Menjadi Ancaman

Udara panas dan area yang kering dapat membuat api lebih mudah menjalar. Tiupan angin hingga 35 kilometer per jam menjadi faktor yang dapat mempercepat perluasan kebakaran ketika api sudah muncul.

BMKG menekankan pentingnya langkah pencegahan selama musim kemarau. “Waspada potensi kebakaran hutan dan lahan di musim kemarau,” kata Ferry Oktarisa.

Puntung rokok yang dibuang sembarangan perlu dihindari karena dapat menjadi pemicu kebakaran pada lahan kering. Pembakaran sampah secara terbuka juga berisiko membuat api merembet ke area sekitarnya.

Pencegahan di lingkungan rumah, kebun, dan lahan terbuka menjadi semakin penting saat panas serta angin terjadi bersamaan. Warga perlu memperhatikan sumber nyala api sekecil apa pun selama periode tersebut.

Dampak Panas bagi Aktivitas Warga

Selain memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan, suhu tinggi dapat meningkatkan paparan panas bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan. BMKG mengimbau masyarakat memenuhi kebutuhan cairan tubuh dan menggunakan tabir surya ketika terpapar matahari.

Perhatian terhadap cuaca panas juga relevan bagi Kota Semarang. Data reanalisis iklim ERA5 mencatat rata-rata suhu harian kota ini naik dari 26,5 derajat Celcius pada era 1940 menjadi 27,7 derajat Celcius pada 2026.

Data tersebut menunjukkan pentingnya kewaspadaan terhadap suhu terik selama kemarau. Langkah sederhana untuk mengurangi sumber api dan menjaga kondisi tubuh perlu dilakukan secara bersamaan.

Baca Juga