Dari Papua hingga NTB, Amanah Paskibraka Mengawal Simbol Negara di HUT RI ke-81

Petugas Paskibraka dari Papua, Jambi, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur memegang peran penting dalam upacara penurunan Sang Merah Putih pada HUT RI ke-81. Mereka membawa dan mengawal simbol negara yang menjadi pusat perhatian dalam rangkaian kirab Bendera Pusaka.

Amanah itu mencakup pembawaan teks Proklamasi, duplikat Bendera Pusaka, baki, hingga tugas pengerek dan komandan kelompok. Tugas-tugas tersebut dijalankan dengan ketenangan, disiplin, dan kesiapan yang dibentuk melalui latihan panjang.

Peran Paskibraka dari Berbagai Daerah

Bianca Alessia Christabella Lantang, purna paskibraka asal Sulawesi Utara, dipercaya membawa teks Proklamasi saat upacara penurunan bendera. Ia menegaskan tugas itu perlu dikerjakan dengan penuh tanggung jawab dan keseriusan.

Nindya Eltsani Fawwaz dari Jambi membawa duplikat Bendera Pusaka dalam prosesi tersebut. Rasa gugup yang ia alami harus diatasi agar bendera tetap terjaga dari risiko jatuh, terkena angin, maupun terlipat.

Maharazthu Rizqhy Ramadhana Chubuyana dari Nusa Tenggara Barat menjadi pengerek bendera di Kelompok 8. Ia mengaku bahagia dan terharu karena tugas pengerek merupakan impian banyak anggota Paskibraka laki-laki.

Kelompok 8 dipimpin Atanasius Meyllano Frans Yogar dari Nusa Tenggara Timur. Ia mengikuti tahapan seleksi dengan keyakinan, berserah kepada Tuhan, serta berkomitmen menjalankan amanah sebaik mungkin.

Atanasius juga menyampaikan belasungkawa atas bencana gempa yang terjadi di daerahnya. Keterlibatannya mencerminkan kehadiran pemuda dari berbagai wilayah Indonesia dalam upacara tingkat nasional.

Neeltje Deliana Insjowi Werimon dari Papua dipercaya sebagai pembawa baki pada prosesi penurunan bendera. Ia menyampaikan rasa bahagia karena dapat membawa nama baik Papua setelah pertama kali mengikuti Paskibra dan berhasil lolos ke tingkat nasional.

Latihan Panjang di Balik Ketelitian Upacara

Komandan Kompi Upacara Penurunan Bendera Kapten Pnb Bagus Setianto mengatakan latihan dilaksanakan dari pagi hingga sore. Pada beberapa kesempatan, latihan bahkan berlangsung sampai menjelang malam.

Bagus menekankan pentingnya disiplin tanpa mengabaikan kedekatan antara pembina dan anggota Paskibraka. Cerita serta canda tawa dalam latihan digunakan untuk menjaga suasana tetap hangat tanpa mengurangi keseriusan pelaksanaan tugas.

120 Kuda dan Pengawalan Motoris

Rangkaian upacara didukung kirab dari Istana Merdeka menuju Monas di Jakarta pada Senin, 17 Agustus 2026. Selain Paskibraka Nasional, pengawalan melibatkan sekitar 120 ekor kuda serta pasukan motoris.

Unsur KirabKekuatanTugas Utama
Pasukan berkudaSekitar 120 ekor kudaMengikuti kirab pagi dan sore
Pasukan motoris45 personelMengawal rangkaian kirab
Paskibraka NasionalPetugas upacaraMenjalankan prosesi simbol negara

Komandan Kavaleri Kolonel Taufik Dwinova memimpin pasukan berkuda dalam formasi yang memiliki makna simbolis. Menurut Investor Daily, jumlah kuda dan susunannya melambangkan tanggal, bulan kemerdekaan, serta usia Republik Indonesia yang memasuki 81 tahun.

Pasukan motoris dipimpin Kapten CPM (K) Vikita Putri dengan formasi paruh lembing dan kekuatan 45 personel. Ia menyampaikan rasa bangga dan haru atas kepercayaan untuk memimpin kompi motoris dalam peringatan tersebut.

Dukungan doa dari kedua anaknya menjadi penguat bagi Vikita selama menjalankan tugas. Bersama pasukan berkuda dan Paskibraka, unsur motoris menjaga rangkaian kirab berlangsung tertib.

Kirab Bendera Pusaka menghadirkan kerja terlatih dari banyak petugas dengan peran yang saling melengkapi. Pengawalan ini menempatkan generasi muda dan pasukan pendukung dalam satu prosesi penghormatan terhadap simbol bangsa.

Baca Juga