Pasar Menanti The Fed, Rupiah Menguat 21 Poin hingga Rp17.806 per Dolar AS

Pasar keuangan menanti sikap The Fed setelah data terbaru Amerika Serikat memperlihatkan perlambatan konsumsi dan penjualan ritel. Dalam situasi tersebut, rupiah menguat 21 poin atau 0,12 persen menjadi Rp17.806 per dolar AS pada perdagangan spot Senin, 17 Agustus 2026.

Penguatan mata uang Indonesia terjadi saat ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS mulai mengendur. Pelemahan indeks dolar AS kemudian memberi ruang bagi rupiah untuk bergerak naik.

Pasar Membaca Peluang Suku Bunga Tetap

Data ekonomi terbaru dinilai mendukung perkiraan bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan minggu ini. Pelaku pasar juga mulai mempertimbangkan peluang penurunan suku bunga pada September.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan, “Data ini yang mendukung dalam pertemuan minggu ini Bank Sentral Amerika kemungkinan besar masih akan mempertahankan suku bunga. Bisa saja ke depan di bulan September akan menurunkan suku bunga.”

Arah kebijakan The Fed menjadi salah satu faktor yang terus dipantau karena berkaitan langsung dengan pergerakan dolar AS. Perubahan ekspektasi suku bunga dapat memengaruhi sentimen terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Konsumsi dan Ritel AS Melemah

Konsumsi rumah tangga AS tercatat turun untuk pertama kali dalam tiga bulan terakhir. Penjualan ritel AS juga mengalami koreksi bulanan yang disebut tajam dalam setahun.

Faktor PasarData TerkiniPengaruh terhadap Sentimen
RupiahNaik 21 poin atau 0,12 persenMenguat ke Rp17.806 per dolar AS
Konsumsi ASTurun pertama kali dalam tiga bulanMemperkuat sinyal perlambatan
Penjualan ritel ASKoreksi bulanan tajam dalam setahunMengendurkan spekulasi kenaikan bunga

Menurut Ibrahim, pelemahan data konsumen menjadi salah satu alasan dolar AS tertekan. “Yang menyebabkan dolar melemah kemudian rupiah menguat adalah salah satunya meredanya kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga setelah data konsumen Amerika Serikat turun,” ujar Ibrahim.

Data pergerakan rupiah tersebut dilansir Investor Daily. Pasar menempatkan pelemahan indikator ekonomi AS sebagai konteks utama di balik penguatan nilai tukar rupiah pada sesi itu.

Risiko Minyak Belum Hilang

Sentimen positif dari dolar yang melemah belum meniadakan risiko eksternal lain bagi rupiah. Eskalasi geopolitik berpotensi mengangkat harga minyak mentah melampaui US$80 per barel.

Lonjakan harga minyak tetap menjadi faktor yang diperhitungkan pelaku pasar dalam membaca pergerakan berikutnya. Namun, fokus saat ini masih lebih banyak mengarah pada indikator makroekonomi Amerika Serikat dan kebijakan suku bunganya.

Langkah Bank Indonesia dan Sentimen RAPBN

Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar internasional maupun domestik untuk menjaga stabilitas mata uang. Ibrahim menyebut langkah itu bertujuan mengawasi stabilitas rupiah di pasar internasional.

Sentimen pasar modal juga dipengaruhi Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto mengenai RAPBN 2027 pada Jumat, 14 Agustus 2026. Ibrahim menilai penyampaian tentang APBN 2027 secara teori cukup baik dan ikut memberi respons positif terhadap rupiah.

“Pidato kenegaraan presiden tentang APBN 2027 yang secara teori cukup bagus dan ini yang membuat rupiah kembali lagi mengalami penguatan,” kata Ibrahim. Kombinasi sentimen global, harga minyak, dan kebijakan stabilisasi bank sentral akan tetap memengaruhi pergerakan rupiah.

Baca Juga