Pengelolaan kekayaan negara kini dihadapkan pada tuntutan yang lebih besar daripada sekadar menghasilkan imbal hasil finansial. Danantara membawa misi untuk mengubah aset, sumber daya, dan kemampuan produksi negara menjadi penggerak industrialisasi jangka panjang.
Targetnya bukan menutup Indonesia dari perdagangan atau investasi global. Yang dikejar adalah posisi yang lebih kuat dalam hubungan ekonomi dunia melalui industri domestik yang memiliki nilai tambah.
Investasi Tidak Cukup Berorientasi Jangka Pendek
Pembangunan industri memerlukan penyediaan fasilitas produksi, infrastruktur, teknologi, tenaga kerja, dan pasar. Seluruh proses itu membuat investasi produktif membutuhkan waktu sebelum manfaatnya terasa secara luas.
CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan lembaganya menerapkan pendekatan investasi jangka panjang, baik untuk investasi langsung maupun tidak langsung. Pendekatan ini berfokus pada fundamental dan potensi pertumbuhan ke depan, bukan semata pergerakan pasar dalam jangka pendek.
Aset negara dapat berbentuk perusahaan, infrastruktur, jaringan bisnis, kemampuan produksi, serta sumber daya yang bernilai ekonomi. Dengan pengelolaan yang efektif, aset tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan keuntungan sesaat, melainkan menciptakan nilai jangka panjang.
Presiden Prabowo Subianto menempatkan Danantara sebagai dana kekayaan negara yang setara dengan lembaga sejenis di tingkat global. Dalam pernyataannya saat menghadiri satu tahun Danantara, Prabowo mengatakan, “Kita bersyukur, kita sekarang sudah punya suatu badan yang bisa disetarakan dengan sovereign wealth fund di dunia.”
Komoditas Tidak Boleh Berhenti sebagai Bahan Mentah
Indonesia memiliki kekayaan alam yang mencakup nikel, tembaga, bauksit, batu bara, minyak, gas, sawit, dan komoditas pertanian. Nilai ekonomi yang lebih besar baru dapat tercipta ketika bahan-bahan tersebut diolah lebih lanjut di dalam negeri.
Hilirisasi Komoditas dapat memperpanjang rantai ekonomi melalui pabrik, logistik, pemasok lokal, serta transfer teknologi. Aktivitas tersebut juga berpotensi menciptakan lapangan kerja dan mendorong pendapatan masyarakat.
Rosan menyebut pengelolaan aset negara diarahkan menjadi katalis penguatan industrialisasi nasional. Sebagai langkah awal, Danantara memiliki 13 proyek hilirisasi senilai sekitar Rp116 triliun yang disampaikan pada April 2026, menurut Medcom.id.
| Agenda | Target atau Nilai | Manfaat yang Diharapkan |
|---|---|---|
| Proyek hilirisasi | 13 proyek sekitar Rp116 triliun | Percepatan industrialisasi bernilai tambah |
| Bursa komoditas | Ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 | Peran lebih besar dalam pembentukan harga |
Kemandirian Tetap Membutuhkan Kerja Sama Global
Kemerdekaan ekonomi tidak berarti Indonesia harus memproduksi seluruh kebutuhannya sendiri. Indonesia tetap memerlukan teknologi, investasi asing, bahan baku, dan akses menuju pasar dunia.
Industri domestik yang kuat akan memberi negara pilihan lebih besar ketika menjalin perdagangan atau menerima modal. Posisi tawar tersebut menjadi penting agar kerja sama global dapat memberi manfaat yang lebih luas bagi perekonomian nasional.
Pemerintah membentuk Danantara Sumber Daya Indonesia atau DSI untuk memperkuat transparansi transaksi ekspor sumber daya alam. Rosan menyatakan perdagangan komoditas perlu berlangsung secara lebih terbuka dan akuntabel.
Rencana Bursa Komoditas menjadi bagian lain dari upaya memperkuat pengelolaan sumber daya. Jika beroperasi pada 2027 sesuai rencana pemerintah, Indonesia diharapkan memiliki peran lebih besar dalam pembentukan harga komoditas strategisnya.
Keberhasilan agenda ini akan bergantung pada konsistensi investasi yang menghubungkan kekayaan alam dengan kapasitas industri. Ketika industri tumbuh dan bertahan, manfaatnya diharapkan menjangkau pekerjaan, pendapatan, serta daya beli masyarakat.






