Dua lulusan dengan ijazah yang sama belum tentu memiliki peluang kerja yang setara. Jaringan, pengalaman, kemampuan bahasa, akses teknologi, dan dukungan ekonomi keluarga dapat membedakan posisi mereka sejak awal memasuki pasar kerja.
Ketimpangan modal tersebut menjadi salah satu penjelasan di balik 1,03 juta lulusan D4, S1, S2, dan S3 yang masih menganggur. Kelompok lulusan perguruan tinggi itu mencakup 14,31 persen dari total pengangguran menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan.
Wakil Rektor Bidang Riset, Kerjasama, dan Digitalisasi Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dr. Radius Setiyawan, M.A., meminta persoalan ini tidak hanya dipandang sebagai kegagalan personal. Ia menilai pengangguran lulusan terdidik berkaitan erat dengan struktur sosial dan ekonomi.
Menurut Radius, generasi muda tidak memulai perjalanan karier dari garis yang sama. Sebagian sudah memiliki privilege berupa relasi, pengalaman, pendidikan berkualitas, serta sumber daya keluarga yang mendukung pencarian kerja.
Di sisi lain, ada lulusan yang hanya membawa ijazah ketika bersaing untuk memperoleh pekerjaan. Kondisi itu membuat kemampuan untuk masuk dan bertahan di pasar kerja tidak semata ditentukan oleh jenjang pendidikan.
Ijazah Tidak Selalu Berubah Menjadi Penghasilan
Radius membaca persoalan itu melalui pemikiran sosiolog Pierre Bourdieu. Dalam kerangka tersebut, ijazah merupakan modal budaya, tetapi modal itu tidak otomatis dapat diubah menjadi modal ekonomi.
“Ijazah itu modal budaya. Tetapi modal budaya tidak otomatis berubah menjadi modal ekonomi,” kata Radius dalam keterangan yang dimuat situs Universitas Muhammadiyah Surabaya pada Agustus 2026.
Modal sosial menjadi unsur lain yang dibutuhkan pencari kerja untuk memperbesar akses terhadap peluang. Bentuknya dapat berupa jaringan, relasi, pengalaman, kemampuan bahasa, akses teknologi, maupun dukungan ekonomi keluarga.
“Orang bisa sama-sama sarjana, tetapi kapital yang dimiliki berbeda,” ujar Radius. Karena perbedaan itu, keberhasilan sebagian lulusan mendapatkan pekerjaan dengan mengandalkan ijazah tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh sarjana.
Data Sakernas Mei 2026 dari Badan Pusat Statistik menunjukkan persoalan pengangguran terjadi pada berbagai jenjang pendidikan. Lulusan SMA menjadi kelompok dengan porsi pengangguran terbesar, kemudian diikuti lulusan SMK.
| Pendidikan Tertinggi | Porsi Pengangguran | Keterangan |
|---|---|---|
| SMA | 28 persen | Kelompok tertinggi |
| SMK | 22,39 persen | Kelompok kedua tertinggi |
| D4, S1, S2, dan S3 | 14,31 persen | Setara 1,03 juta orang |
Ruang Kerja Tidak Secepat Pertambahan Lulusan
Selain ketimpangan modal, Radius menilai pertumbuhan pekerjaan berkualitas belum sebanding dengan pertambahan tenaga kerja terdidik. Situasi ini membuat pendidikan lebih sulit dikonversikan menjadi pekerjaan dan pendapatan.
“Ketika pekerjaan berkualitas tidak tumbuh sebanding dengan jumlah tenaga kerja terdidik, modal pendidikan semakin sulit dikonversikan menjadi modal ekonomi,” kata Radius. Ia menekankan perlunya melihat kapasitas struktur ekonomi dalam menyediakan ruang kerja yang memadai.
Ia juga menyoroti deindustrialisasi sebagai bagian dari persoalan struktural tersebut. Pertumbuhan investasi yang bertumpu pada sektor padat modal dapat berjalan tanpa menciptakan pekerjaan dalam skala sebanding.
“Kalau investasi semakin banyak masuk ke sektor padat modal, tetapi penciptaan pekerjaan tidak sebanding, kita menghadapi persoalan struktural,” ujarnya. Dalam keadaan itu, jumlah sarjana yang terus bertambah berhadapan dengan kesempatan kerja tetap yang terbatas.
Pengangguran lulusan terdidik dengan demikian tidak cukup dijelaskan melalui ukuran kompetensi personal atau kualitas kampus. Akses yang tidak setara terhadap modal sosial dan ekonomi turut menentukan kemampuan lulusan mengubah pendidikan menjadi pekerjaan.






