Usia 23 tahun tidak lagi menjadi penghalang untuk masuk jajaran miliarder di tengah ledakan bisnis kecerdasan buatan. Tiga pendiri Mercor, Brendan Foody, Adarsh Hiremath, dan Surya Midha, diperkirakan masing-masing memiliki harta sekitar USD 2,2 miliar.
Kekayaan itu muncul setelah Mercor meraih pendanaan USD 350 juta dengan valuasi USD 10 miliar. Perusahaan yang dibangun oleh tiga mantan teman sekolah menengah dari San Jose tersebut menjadi gambaran cepatnya penciptaan kekayaan di sektor AI.
Fenomena ini tidak terbatas pada Mercor. Forbes mencatat lebih dari 80 miliarder AI dalam daftar tahunan orang terkaya dunia, dengan total kekayaan USD 2,9 triliun dan 45 nama baru yang masuk pada tahun lalu.
Nilai perusahaan AI terus menarik perhatian investor, walaupun pasar ini juga menghadapi kekhawatiran soal gelembung investasi. Anthropic disebut berencana melantai di bursa melalui IPO dengan valuasi USD 1 triliun atau lebih.
| Tokoh | Usia | Posisi | Data Kekayaan Utama |
|---|---|---|---|
| Brendan Foody, Adarsh Hiremath, Surya Midha | 23 tahun | Pendiri Mercor | USD 2,2 miliar per orang |
| Leopold Aschenbrenner | 24 tahun | Investor AI | USD 300 juta |
| Steven Hao | 30 tahun | Pendiri Cognition AI | Sekitar USD 1,3 miliar |
| Lucy Guo | 31 tahun | Pendiri ScaleAI | USD 1,3 miliar |
| Yuhai Wu | 31 tahun | Pendiri xAI | Tidak diketahui |
| Aravind Srinivas | 32 tahun | CEO Perplexity | Sekitar USD 2,1 miliar |
1. Brendan Foody, Adarsh Hiremath, dan Surya Midha
Foody, Hiremath, dan Midha meninggalkan bangku kuliah demi mengembangkan Mercor. Bisnis mereka awalnya memakai AI untuk membantu perusahaan merekrut pekerja baru.
Mercor kemudian beralih ke layanan pelabelan data, bidang yang juga ditekuni ScaleAI. Pergeseran tersebut diikuti lonjakan pendapatan, tetapi belum ada laporan bahwa tiga pendirinya melakukan belanja mewah.
2. Leopold Aschenbrenner
Leopold Aschenbrenner dikenal sebagai pengelola Situational Awareness LP, dana lindung nilai yang fokus pada AI. Investor kelahiran Jerman itu diperkirakan memiliki kekayaan bersih USD 300 juta.
Dana investasinya dilaporkan memiliki saham senilai USD 5 miliar di Anthropic dan pernah memiliki aset USD 45 miliar pada puncaknya. Ia membeli rumah bersejarah hampir USD 20 juta di Nob Hill, San Francisco, dengan lapangan golf mini, kebun apel pribadi, dan pemandangan Teluk San Francisco.
3. Steven Hao
Steven Hao pernah bekerja sebagai insinyur di Scale AI sebelum ikut mendirikan Cognition AI pada akhir 2023. Perusahaan tersebut mengembangkan teknologi AI otonom.
Pada awal 2024, Cognition AI meluncurkan Devin, agen AI yang dapat merencanakan, menulis kode, dan mengeksekusi tugas perangkat lunak. Serangkaian pendanaan membawa valuasi perusahaan mendekati USD 10,2 miliar dan kekayaan Hao diperkirakan berkisar USD 1,3 miliar.
4. Lucy Guo
Lucy Guo mendirikan ScaleAI ketika berusia 21 tahun dan mengumpulkan sebagian besar hartanya dari perusahaan tersebut. ScaleAI menyediakan layanan pelabelan data berkualitas tinggi untuk mendukung teknologi AI.
Ia meninggalkan ScaleAI pada 2018, tetapi masih memiliki 5% saham perusahaan. Nilai ScaleAI mencapai USD 29 miliar setelah Meta membeli sahamnya, yang turut mengangkat kekayaan Guo menjadi USD 1,3 miliar.
Guo membeli rumah mewah seharga USD 30 juta di Hollywood Hills dan juga memiliki kondominium mewah di Miami. Ia membagi waktunya antara Los Angeles dan Miami.
5. Yuhai Wu
Yuhai Wu merupakan salah satu pendiri xAI, perusahaan AI milik Elon Musk. Nilai kekayaannya tidak dipublikasikan, namun dipastikan melonjak setelah SpaceX mengakuisisi xAI dengan valuasi gabungan USD 1,25 triliun.
Setelah akuisisi tersebut, Wu meninggalkan xAI. Ia baru-baru ini membeli rumah tepi danau senilai USD 70 juta di San Mateo County, setelah sebelumnya membeli rumah USD 12 juta di Los Altos.
6. Aravind Srinivas
Aravind Srinivas mendirikan Perplexity pada Agustus 2022 setelah berkarier sebagai peneliti AI di Google dan OpenAI. Perplexity dirancang sebagai mesin penjawab AI yang ingin menjadi alternatif bagi mesin pencari tradisional.
Valuasi Perplexity mencapai USD 20 miliar pada 2025 dan kekayaan Srinivas diperkirakan sekitar USD 2,1 miliar. Ia disebut mendedikasikan hampir seluruh waktunya untuk membangun perusahaan, sekaligus menjadi investor malaikat bagi perusahaan rintisan teknologi dan AI tahap awal.
Laporan inet.detik.com mengutip agen properti San Francisco Alexander Fromm Lurie yang melihat semakin banyak orang berusia 20-an hingga 40-an mengakses dana besar. Pertumbuhan valuasi perusahaan AI yang sangat cepat membuat kelompok pemilik kekayaan baru ini berusia lebih muda dibandingkan generasi teknologi sebelumnya.






