Kepercayaan Diri Bisa Terkikis, Kenali 4 Pola Rekan Kerja Destruktif

Rasa ragu terhadap kemampuan sendiri dapat muncul bukan hanya karena beban kerja, tetapi juga dari percakapan yang terus merendahkan. Dampaknya semakin besar ketika seseorang dibuat mempertanyakan ingatan, penilaian, atau alasan dirinya merasa tidak nyaman.

Pola komunikasi yang destruktif tidak selalu tampak sebagai pertengkaran terbuka. Dalam banyak kasus, masalah terlihat dari cara seseorang merespons perbedaan pendapat dan mengabaikan perspektif koleganya.

Erin Leonard, PhD, menjelaskan bahwa inti persoalannya bukan sekadar keberadaan konflik. Pola berulang yang mengesampingkan perasaan dan sudut pandang pihak lain perlu diwaspadai dalam hubungan profesional.

1. Selalu Ingin Menjadi Pihak yang Benar

Rekan kerja toxic sering kali mempertahankan pandangannya tanpa memberi ruang cukup bagi orang lain untuk menjelaskan situasi. Diskusi pun berubah menjadi adu argumen, bukan upaya mencari jalan keluar bersama.

Saat lawan bicara berusaha menyampaikan perasaan atau konteks, pembahasan dapat kembali dikuasai oleh orang yang sama. Akibatnya, perspektif pihak lain tidak pernah benar-benar dipertimbangkan.

Reaksi terhadap perlakuan itu bahkan dapat dipakai untuk mengalihkan masalah awal. Orang yang meninggikan suara karena terus dipotong, misalnya, dapat dituduh pemarah atau dianggap suka menyela.

2. Menutupi Dampak Tindakan dengan Alasan Rasional

Argumen yang terdengar logis tidak selalu berarti persoalan telah dijawab secara utuh. Seseorang dapat berpegang pada prosedur, fakta, atau pengalaman untuk menghindari pembicaraan mengenai dampak emosional dari tindakannya.

Leonard menyebut pola tersebut sebagai intellectualization, yakni mekanisme untuk menjauh dari emosi yang terasa tidak nyaman. Dalam konteks pekerjaan, pola ini dapat membuat persoalan hubungan profesional terus tertunda penyelesaiannya.

Contoh yang disebutkan adalah pekerja yang mengambil pelanggan yang sebelumnya ditangani rekannya lalu menganggapnya sebagai bagian dari bisnis. Alasan itu tidak otomatis menjawab dampak tindakan tersebut terhadap kolega yang kehilangan pelanggan.

No.Tanda yang MunculRisiko bagi Lawan Bicara
1Menolak perspektif lainMerasa tidak didengar
2Mengandalkan argumen rasionalDampak emosional diabaikan
3Mengubah versi peristiwaMeragukan ingatan sendiri
4Merendahkan pribadiKepercayaan diri menurun

3. Membuat Kejadian Menjadi Sulit Dipastikan

Pola berikutnya terlihat ketika seseorang menyusun cerita kejadian dengan narasi yang sangat menguntungkan dirinya. Pihak lain kemudian digambarkan sebagai penyebab masalah, sementara peran orang tersebut dalam konflik menjadi samar.

Versi cerita yang panjang dapat membingungkan lawan bicara dan memicu keraguan terhadap ingatan sendiri. Catatan kerja, informasi yang jelas, serta konteks percakapan dapat digunakan untuk menjaga pembahasan tetap berpijak pada fakta.

Keadaan itu dapat terjadi ketika seorang rekan mengaku sudah memperoleh izin untuk memakai barang milik kolega. Jika pemiliknya tidak pernah mengingat izin tersebut, uraian berbelit dapat membuat persoalan makin sulit diluruskan.

4. Mengkritik Orangnya, Bukan Pekerjaannya

Kritik profesional seharusnya membahas pekerjaan yang perlu diperbaiki dan memberi ruang bagi respons. Batas itu terlewati ketika pembicaraan berkembang menjadi serangan terhadap kemampuan, kepribadian, atau kualitas diri seseorang.

Seorang anggota tim dapat membuat dokumen baru agar pekerjaan lebih terorganisasi dan meminta masukan. Namun, komentar mengenai waktu pembuatan dokumen dapat bergeser menjadi tuduhan bahwa ia tidak memahami bisnis.

Pola semacam ini berpotensi menciptakan komunikasi toxic di tempat kerja yang membuat orang merasa tidak aman. Membatasi pembicaraan pada kepentingan pekerjaan dapat menjadi langkah untuk menjaga interaksi tetap profesional.

Menetapkan batas profesional bukan berarti menutup peluang kerja sama. Dalam kondisi tertentu, meminta pandangan dari rekan tepercaya dapat membantu memperoleh penilaian yang lebih objektif.

Baca Juga