Harga minyak yang meningkat akibat konflik Iran membayangi pemulihan ekonomi Jepang pada kuartal II 2026. Produk domestik bruto negara itu hanya tumbuh 1,1 persen secara tahunan, lebih rendah dari proyeksi pasar sebesar 2 persen.
Hasil tersebut menandai perlambatan dari pertumbuhan 2,1 persen pada kuartal I 2026. Kenaikan biaya energi menjadi persoalan karena dapat langsung memukul pengeluaran rumah tangga dan margin perusahaan.
Jepang masih mencatat pertumbuhan 0,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laju itu memang lebih tinggi daripada 0,5 persen pada kuartal sebelumnya, tetapi belum menghapus kekhawatiran mengenai lesunya permintaan domestik.
Risiko minyak bagi pemulihan
Ketergantungan pada energi membuat pergerakan harga minyak mentah memiliki dampak besar bagi aktivitas ekonomi Jepang. Biaya operasional perusahaan dapat naik, sedangkan rumah tangga menghadapi ruang belanja yang lebih sempit ketika harga energi meninggi.
Pemerintah diperkirakan dapat memberi sebagian penyeimbang melalui kebijakan untuk menekan tingginya harga minyak bagi rumah tangga. Efektivitas langkah tersebut akan menjadi penting karena konsumsi domestik belum pulih dengan kuat.
Bank of Japan memasukkan harga minyak mentah yang tinggi sebagai salah satu risiko terhadap pertumbuhan. Bank sentral itu juga menilai perekonomian masih akan bergerak moderat dengan laju yang cenderung melambat.
Untuk tahun fiskal 2026 yang berakhir pada Maret 2027, Bank of Japan menaikkan proyeksi pertumbuhan PDB menjadi 0,6 persen. Proyeksi itu sebelumnya berada pada level 0,5 persen.
Dalam pandangan ekonominya, Bank of Japan menyatakan, “Ekonomi Jepang diperkirakan akan terus tumbuh secara moderat, meskipun dengan laju yang melambat.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa prospek pertumbuhan masih dibayangi berbagai tekanan biaya.
| Indikator | Kuartal I 2026 | Kuartal II 2026 |
|---|---|---|
| Pertumbuhan PDB tahunan | 2,1 persen | 1,1 persen |
| Pertumbuhan dibanding tahun sebelumnya | 0,5 persen | 0,7 persen |
| Ekspektasi pasar pertumbuhan tahunan | – | 2 persen |
Ekspor belum menjadi jawaban penuh
Sektor ekspor menopang ekonomi pada periode April-Juni setelah pengiriman barang Jepang melampaui ekspektasi selama tiga bulan. Meski demikian, kekuatan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan peningkatan volume karena nilai ekspor ikut terdorong oleh yen yang melemah.
Faktor kurs membuat gambaran kinerja ekspor perlu dinilai lebih hati-hati. Ketika sektor eksternal menghadapi ketidakpastian, permintaan dalam negeri yang tertahan dapat membatasi ruang ekspansi ekonomi.
Permintaan global yang terkait AI memberi dukungan tambahan bagi Jepang melalui industri semikonduktor. Perusahaan Jepang memiliki peran dalam rantai pasok sektor tersebut, sehingga kenaikan kebutuhan teknologi AI berpotensi menjaga aktivitas industri.
Investor menilai data secara positif
Pasar keuangan merespons positif rilis pertumbuhan yang lebih lemah dari perkiraan itu. Indeks Nikkei 225 menguat 0,43 persen dan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun tercatat pada 2,88 persen.
Yen sedikit menguat ke sekitar 159,1 yen per dollar AS. Pergerakan selanjutnya akan bergantung pada perkembangan minyak, ketahanan belanja domestik, dan keberlanjutan permintaan global terhadap teknologi AI.






