Setelah Gempa Flores Merusak 253 Sekolah, Starlink dan 50 Tenda Dikirim ke NTT

Gangguan listrik dan telekomunikasi pascagempa di Nusa Tenggara Timur membuat kebutuhan konektivitas menjadi bagian penting dalam penanganan sekolah terdampak. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerjunkan perangkat Starlink bersamaan dengan pengiriman 50 tenda untuk kelas darurat.

Bantuan itu disiapkan setelah gempa magnitudo 7,7 di Laut Flores merusak 253 satuan pendidikan di tujuh kabupaten. Pembelajaran di ruang yang tidak layak akan dihentikan dan dialihkan ke lokasi yang lebih aman.

Starlink untuk Menjaga Koordinasi di Lokasi Terdampak

Perangkat Starlink ditujukan bagi wilayah yang mengalami putus jaringan listrik dan telekomunikasi. Akses internet tersebut dibutuhkan agar komunikasi serta koordinasi penanganan pendidikan tetap dapat berjalan.

Tim lintas direktorat dan Satuan Pendidikan Aman Bencana juga melakukan asesmen di lapangan. Verifikasi kerusakan fisik sekolah ditargetkan selesai pada pekan berikutnya sebagai dasar penyusunan pemulihan layanan pendidikan.

Selain kerusakan bangunan, gempa menyebabkan dua murid dan satu guru meninggal dunia. Kondisi ini membuat keselamatan warga sekolah ditempatkan sebagai prioritas dalam penanganan darurat.

Tenda Dipakai Saat Kelas Dinilai Berisiko

Kemendikdasmen meminta kegiatan belajar mengajar dihentikan sementara di kelas yang tidak layak digunakan. Murid dan guru akan diarahkan menggunakan ruang aman atau tenda belajar sampai proses pemulihan memungkinkan pembelajaran berjalan lebih nyaman.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan pemerintah bekerja bersama pemerintah daerah dalam pemulihan tersebut. “Keselamatan warga sekolah menjadi prioritas, dan proses pemulihan pendidikan akan kami kawal bersama pemerintah daerah hingga pembelajaran kembali berlangsung dengan aman dan nyaman,” katanya di Jakarta, Minggu (16/8/2026).

Pemulihan trauma juga dimasukkan dalam agenda penanganan bagi warga sekolah terdampak. Kemendikdasmen bekerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia atau Himpsi untuk menyiapkan dukungan tersebut.

Kerusakan Menjangkau Berbagai Jenjang Pendidikan

Per 16 Agustus 2026, tercatat 199 satuan pendidikan dari PAUD hingga SMP serta SKB di bawah kewenangan kabupaten mengalami kerusakan. Di tingkat provinsi, 54 satuan pendidikan jenjang SMA, SMK, dan SLB juga terdampak.

Manggarai Timur menjadi wilayah yang tercatat mengalami dampak paling parah. Pemerintah membagi distribusi bantuan menjadi dua klaster agar kebutuhan sekolah di sejumlah kabupaten dapat lebih cepat dijangkau.

KlasterRute PengirimanWilayah SasaranIsi Bantuan
PertamaSurabaya-Labuan BajoManggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat30 tenda dan perlengkapan warga sekolah
KeduaMalang-Pelabuhan EndeEnde, Ngada, Sikka, Nagekeo20 tenda

Logistik Dikirim dalam Dua Klaster

Klaster pertama diberangkatkan dengan KM Dharma Rucitra 7 pada 20 Agustus 2026. Muatannya meliputi 30 tenda, 1.000 family kit, 200 school kit umum, dan 2.000 school kit SMA serta SMK.

Investor Daily melaporkan bantuan dari Surabaya itu dijadwalkan tiba di Labuan Bajo pada 22 Agustus 2026. Pemasangan tenda darurat di tiga wilayah Manggarai ditargetkan dimulai sehari setelahnya.

Klaster kedua berangkat menggunakan KM Dharma Rucitra 8 pada 21 Agustus 2026 menuju Pelabuhan Ende. Sebanyak 20 tenda akan disalurkan melalui koordinasi Balai Penjaminan Mutu Pendidikan NTT di SKB Ende.

Baca Juga