China dan Korea Selatan Bereaksi Keras, Menhan Jepang Datangi Yasukuni

China dan Korea Selatan bereaksi keras setelah Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengunjungi Kuil Yasukuni pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Kunjungan itu juga memunculkan teguran langka dari Amerika Serikat, yang selama ini merupakan sekutu dekat Tokyo.

Kecaman tersebut menunjukkan bahwa persoalan sejarah perang masih menjadi sumber ketegangan yang nyata di Asia Timur. Bagi Beijing, Seoul, dan Pyongyang, kunjungan pejabat Jepang ke Yasukuni berkaitan langsung dengan memori agresi militer Jepang pada Perang Dunia II.

Reaksi Berulang terhadap Ziarah di Yasukuni

Kontroversi atas kunjungan politikus Jepang ke tempat itu bukan hal baru. Shinzo Abe pernah menghadapi kecaman keras dari China setelah mengunjungi Yasukuni pada Desember 2013, bertepatan dengan peringatan pertama masa jabatannya sebagai perdana menteri.

Kementerian Luar Negeri China saat itu menyatakan telah menyampaikan protes keras kepada Jepang serta mengutuk kunjungan Abe. Riwayat tersebut membuat kehadiran Koizumi sebagai menteri pertahanan kembali ditempatkan dalam konteks diplomatik yang sensitif.

Menurut VIVA yang mengutip Channel News Asia, Minoru Kihara adalah menteri pertahanan Jepang terakhir yang mengunjungi kuil itu sebelum Koizumi pada 2024. Sementara Junichiro Koizumi menjadi perdana menteri terakhir yang berziarah tepat pada peringatan 15 Agustus, yaitu pada 2006.

TokohWaktu KunjunganKeterangan
Shinjiro Koizumi15 Agustus 2026Berkunjung sebagai Menteri Pertahanan Jepang
Minoru Kihara2024Menteri pertahanan sebelumnya yang berkunjung
Junichiro Koizumi15 Agustus 2006Perdana menteri terakhir yang hadir pada 15 Agustus
Shinzo AbeDesember 2013Memicu kecaman keras dari China

Pesan Koizumi dan Bobot Jabatannya

Shinjiro Koizumi telah lama menjadi pengunjung tetap Kuil Yasukuni. Perbedaan utama kali ini terletak pada statusnya sebagai pejabat yang memimpin kementerian pertahanan Jepang.

Setelah berziarah, Koizumi tidak menjawab pertanyaan wartawan saat meninggalkan kawasan kuil. Ia kemudian menyampaikan penjelasan lewat unggahan Instagram mengenai tujuan kunjungannya.

Koizumi mengatakan ia datang untuk “menyampaikan belasungkawa tulusnya kepada para pahlawan yang mengorbankan nyawa mereka yang berharga untuk bangsa”. Ia juga menyatakan tekad Jepang untuk menjalankan jalan pascaperang sebagai negara yang damai.

“Seiring dengan sumpah kami untuk meninggalkan perang, saya menegaskan kembali tekad kami untuk terus memenuhi tanggung jawab kami dalam menegakkan jalan Jepang pascaperang sebagai negara yang damai,” ujar Koizumi. Penjelasan itu tetap tidak menghentikan kritik yang memandang ziarah tersebut memiliki arti politik.

Nama-Nama di Dalam Kuil

Kuil Yasukuni menghormati sekitar 2,5 juta korban perang Jepang. Namun, di antara nama yang dihormati terdapat 14 orang yang didakwa sebagai penjahat perang Kelas A Jepang pada Perang Dunia II, termasuk mantan Perdana Menteri Hideki Tojo.

Fakta ini menjadi alasan utama negara-negara yang pernah mengalami agresi pasukan Jepang memantau setiap kunjungan tokoh senior Tokyo. Mereka menilai ritual di Yasukuni tidak dapat dipisahkan dari pertanyaan mengenai pengakuan dan pertanggungjawaban atas kekejaman perang.

Hubungan Jepang dengan negara tetangganya juga dipengaruhi sengketa wilayah yang berjalan bersamaan dengan sengketa sejarah. Duta Besar China dan Rusia untuk Jepang pernah membuat pernyataan bersama tentang pengorbanan kedua negara dalam Perang Dunia II.

Di sisi lain, Jepang pernah mengajukan protes keras setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi Kepulauan Kuril di wilayah timur jauh Rusia, yang juga diklaim Tokyo. Rangkaian persoalan itu membuat setiap kunjungan ke Yasukuni mudah berpengaruh pada kepercayaan politik di kawasan.

Baca Juga