Penutupan kawasan Bromo tetap berlaku walaupun nyala api aktif tidak lagi ditemukan hingga Jumat (14/8). Petugas masih mengejar bara yang tertinggal di area bekas kebakaran karena sumber panas itu dapat memunculkan api baru.
Ancaman terbesar kini berada pada bara yang tidak selalu terlihat dari permukaan. Saat cuaca kering dan angin kencang terjadi, bara di tanah, vegetasi, atau sisa material terbakar dapat kembali menyulut kebakaran.
Penyisiran Menjadi Tahap Penentu
Tim gabungan menjalankan penyisiran dan pendinginan untuk menghilangkan risiko api yang tersimpan di lokasi terdampak. Tahap ini menjadi alasan kawasan belum bisa segera menerima kunjungan masyarakat dan wisatawan.
Menurut pemantauan yang dikutip Media Indonesia, tidak ada lagi nyala api aktif di lokasi hingga Jumat (14/8). Meski demikian, temuan bara membuat tahapan penanganan tetap berjalan sampai risiko kebakaran benar-benar hilang.
Pendinginan diperlukan agar api tidak tersisa pada sela-sela vegetasi maupun lapisan tanah. Petugas juga memperketat pemantauan sebagai langkah pencegahan terhadap kemunculan titik api baru.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, menyebut situasi saat ini relatif terkendali. Ia menekankan bahwa kondisi tersebut tidak menjadi alasan untuk mengendurkan kewaspadaan.
“Alhamdulillah, berdasarkan pemantauan sementara, tidak lagi terpantau nyala api aktif dan situasi saat ini relatif terkendali,” ujar Ristianto. Ia mengatakan perhatian petugas kini diarahkan pada penuntasan pendinginan dan pengawasan area terdampak.
Penutupan untuk Menjaga Keselamatan
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sebelumnya mendatangi langsung lokasi yang terdampak kebakaran. Ia menginstruksikan penutupan sementara secara menyeluruh di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru agar penanganan dapat dilakukan dengan optimal.
Penutupan tersebut memungkinkan seluruh unsur memusatkan tenaga pada pemadaman, pendinginan, dan pencegahan kebakaran susulan. Keselamatan masyarakat serta petugas menjadi dasar utama dalam kebijakan itu.
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru bekerja bersama Satgas Penanganan Siaga Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Provinsi Jawa Timur Tahun 2026. Manggala Agni ikut melakukan pemantauan bersama unsur lain di lapangan.
Penanganan kebakaran juga melibatkan TNI, Polri, BNPB, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, serta relawan. Kementerian Kehutanan mengapresiasi keterlibatan semua pihak hingga kondisi api dapat dikendalikan.
Fasilitas Wisata Diperiksa Sesudah Pendinginan
Pembukaan kembali kawasan tidak hanya bergantung pada selesainya proses pendinginan. Satgas juga akan memeriksa fasilitas umum dan sarana pelayanan wisata untuk memastikan keamanan serta kelayakannya.
Masyarakat dan pelaku wisata diminta mengikuti informasi pembukaan melalui kanal resmi BBTNBTS. Keputusan baru dapat diambil setelah kondisi aman dan pemeriksaan fasilitas di kawasan Bromo selesai dilakukan.
Pengunjung yang sudah membeli tiket melalui sistem pemesanan daring pada masa penutupan dapat mengajukan pengembalian dana atau penjadwalan ulang. Prosedur pengajuan akan disampaikan melalui kanal resmi pengelola.
Masyarakat dan wisatawan juga diimbau tidak melakukan kegiatan yang berpotensi menimbulkan kebakaran di dalam maupun sekitar kawasan. Setiap temuan asap, bara, atau indikasi kebakaran perlu segera dilaporkan kepada petugas.






