Target Defisit 4,3% Terancam, India Percepat Penjualan Saham 10 BUMN

Pemerintah India mempercepat penjualan saham di 10 badan usaha milik negara ketika risiko pelebaran defisit fiskal menguat. Langkah itu ditempuh untuk menghimpun dana tanpa langsung menambah beban defisit anggaran.

Defisit fiskal India dikhawatirkan dapat melampaui target 4,3% dari produk domestik bruto pada tahun ini. Tekanan tersebut membuat hasil penjualan aset negara semakin penting bagi pemerintah.

Ruang Anggaran Kian Sempit

Reuters melaporkan pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi menghadapi tantangan fiskal berat dalam beberapa tahun terakhir. Dampak konflik Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah turut menambah tekanan pada neraca negara.

Penerimaan pemerintah juga melemah setelah pemangkasan sejumlah tarif pajak tidak langsung. Pada saat yang sama, pemerintah tetap berupaya menjaga pertumbuhan ekonomi berjalan.

Analis ANZ memperingatkan kenaikan subsidi pupuk serta biaya pembayaran utang dapat memperlebar defisit hingga 0,3% dari PDB. Kondisi itu berpotensi mendorong percepatan program pelepasan kepemilikan negara dalam beberapa bulan mendatang.

Dana Divestasi Sudah Lewati 65% Target

Pemerintah menargetkan penghimpunan 800 miliar rupee dari penjualan saham BUMN pada tahun ini. Realisasi hingga saat ini telah melampaui 65% dari target tersebut.

Pencapaian itu menandai laju divestasi yang lebih kuat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. India terakhir kali memenuhi target tahunan penjualan saham BUMN pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2019.

TransaksiRincianNilai Dana
LICPelepasan 6,5% sahamUS$3,3 miliar
Sembilan BUMN lainPenjualan saham sepanjang 2026Hampir 270 miliar rupee
Sasaran pemerintahDivestasi BUMN tahunan800 miliar rupee

Menurut Prime Database, sembilan BUMN selain LIC menghasilkan hampir 270 miliar rupee dari penjualan saham sepanjang 2026. Angka tersebut menjadi capaian tertinggi dalam lebih dari satu dekade.

Pemerintah telah melepas kepemilikan pada sejumlah perusahaan, termasuk Cochin Shipyard, Indian Railways Finance Corp, NHPC, dan Coal India. Salah satu transaksi divestasi terbesar tahun ini juga diselesaikan pada awal bulan ini.

Penawaran LIC Memberi Dorongan Besar

Life Insurance Corporation of India menjadi pusat perhatian dalam gelombang transaksi tersebut. Pemerintah meraup US$3,3 miliar dengan menjual 6,5% saham perusahaan asuransi jiwa terbesar di India itu.

Penawaran dilakukan dengan diskon sekitar 10% dan menarik permintaan investor melebihi jumlah saham yang tersedia. Dana dari LIC sendiri jauh melampaui penghimpunan dari sembilan perusahaan negara lainnya.

Keberhasilan transaksi ini memberi gambaran bahwa pasar masih merespons positif saham BUMN yang ditawarkan pada harga diskon. Hal itu penting karena penjualan dilakukan ketika pasar saham sedang kurang bergairah.

Selain kebutuhan fiskal, sebagian penjualan saham juga diperlukan untuk memenuhi aturan pencatatan bursa yang mewajibkan pengurangan kepemilikan pemerintah pada sejumlah emiten. Namun, besarnya transaksi tahun ini menunjukkan kebijakan tersebut kini memiliki peran yang lebih luas bagi pembiayaan anggaran.

Dengan target yang semakin dekat, pemerintah India memiliki insentif kuat untuk mempertahankan laju divestasi. Perkembangan defisit, subsidi pupuk, dan biaya utang akan menjadi faktor yang menentukan seberapa agresif penjualan aset negara berikutnya.

Baca Juga