Harga emas spot jatuh 1,3% menjadi US$ 4.351,07 per ons troi pada Kamis, 13 Agustus 2026, setelah investor mengambil keuntungan dari reli cepat. Penurunan itu terjadi tidak lama sesudah emas mencapai US$ 4.449,39 per ons troi, titik tertinggi sejak 5 Juni 2026.
Pergerakan tersebut menegaskan rapuhnya kenaikan ketika harga mendekati US$ 4.500 per ons troi. Level itu dipandang pasar sebagai batas teknis yang sulit ditembus setelah reli emas sekitar 9% dalam sepekan.
Logam Mulia Lain Ikut Tertekan
Pelemahan pada akhir perdagangan tidak hanya dialami emas spot. Emas berjangka Amerika Serikat, perak, platinum, dan palladium semuanya ditutup lebih rendah.
| Komoditas | Perubahan | Harga Penutupan |
|---|---|---|
| Emas spot | Turun 1,3% | US$ 4.351,07 per ons troi |
| Emas berjangka AS | Turun 1,35% | US$ 4.407,1 per ons troi |
| Perak spot | Turun 1,34% | US$ 64,46 per ons |
| Platinum | Turun 2,15% | US$ 1.718,9 per ons |
| Palladium | Turun 4,44% | US$ 1.308,41 per ons |
Kontrak emas berjangka AS turun 1,35% ke US$ 4.407,1 per ons troi. Sementara itu, palladium mencatat penurunan terdalam di antara komoditas dalam daftar tersebut, yaitu 4,44% ke US$ 1.308,41 per ons.
Resistance Membatasi Lonjakan
Analis strategi pasar senior StoneX, Bob Haberkorn, menilai US$ 4.500 per ons troi sebagai hambatan utama bagi emas. Ia mengatakan, “US$ 4.500 per ons troi merupakan titik resistance besar bagi emas.”
Harga yang mendekati ambang tersebut memicu kecenderungan investor untuk melakukan aksi ambil untung. Tekanan jual juga muncul ketika pergerakan emas berada di sekitar area rata-rata pergerakan 100 hari.
Analis independen Tai Wong menyebut koreksi setelah lonjakan besar sebagai perkembangan yang wajar. Menurutnya, pembelian dari China dan investor ritel menjadi pendorong utama kenaikan harga sekitar 9% dalam sepekan.
Arus pembelian yang kuat membawa emas naik cepat sebelum sebagian pelaku pasar mengamankan hasil kenaikan tersebut. Koreksi harian pun belum menghapus penguatan mingguan yang sebelumnya terjadi.
Data Inflasi dan Suku Bunga Menjadi Penentu
Investor Daily melaporkan bahwa data inflasi Amerika Serikat ikut mendukung kenaikan emas sebelum koreksi. CPI Juli 2026 melandai menjadi 3,4% dari 3,5% pada Juni, sedangkan PPI stagnan karena penurunan harga barang mengimbangi kenaikan biaya jasa.
Data tersebut turut memengaruhi perkiraan pasar atas langkah The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September turun menjadi 35% dari 40% sebelumnya.
Suku bunga yang lebih rendah umumnya menguntungkan emas karena mengurangi biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil. Namun, arah kebijakan masih diperdebatkan setelah Presiden The Fed Bank of Cleveland Beth Hammack pada 12 Agustus 2026 kembali menyerukan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Pasar emas karena itu tetap akan merespons data ekonomi serta komentar pejabat bank sentral. Pergerakan selanjutnya akan bergantung pada apakah harga mampu kembali mendekati, lalu menghadapi, resistance US$ 4.500 per ons troi.






