Listrik dari panas bumi dapat beroperasi selama 24 jam dan tidak bergantung pada perubahan cuaca. Keunggulan ini membuat energi panas bumi menjadi salah satu pilihan penting saat Indonesia membutuhkan pasokan listrik yang stabil dari sumber daya dalam negeri.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menyiapkan pengembangan proyek di empat wilayah untuk memperluas kapasitas energi bersih. Langkah tersebut berjalan bersamaan dengan upaya menjaga keandalan pembangkit yang telah beroperasi.
| Wilayah | Pengembangan PGE |
|---|---|
| Sumatra Selatan | PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 |
| Bengkulu | PLTP Hululais Unit 1 dan 2 |
| Sulawesi Utara | PLTP Lahendong Unit 7–8 dan Binary Unit |
| Lampung | Proyek Gunung Tiga |
Ekspansi tersebut menjadi bagian dari upaya menyediakan energi bersih yang andal bagi masyarakat. PGE memandang pengembangan proyek baru sebagai langkah penting menjelang satu abad perjalanan panas bumi nasional.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk memperkuat kedaulatan energi. Menurutnya, pemanfaatan sumber energi domestik harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kedaulatan energi dimulai dari kemampuan kita mengandalkan kekuatan sendiri. Indonesia dianugerahi potensi panas bumi yang besar, dan tugas kita adalah mengubah anugerah tersebut menjadi manfaat yang nyata bagi masyarakat,” ujar Ahmad Yani.
Kinerja Pembangkit yang Konsisten
PGE memiliki sekitar 3 gigawatt (GW) potensi di wilayah kerja panas bumi perseroan. Kapasitas terpasang yang dioperasikan sendiri saat ini mencapai 727 megawatt (MW).
Sepanjang semester I-2026, produksi listrik PGE tercatat 2.745 gigawatt-hour (GWh). Medcom.id memuat bahwa capaian tersebut tumbuh 13,62 persen secara tahunan.
| Ukuran Kinerja | Nilai |
|---|---|
| Potensi panas bumi di wilayah kerja | Sekitar 3 GW |
| Kapasitas terpasang yang dioperasikan mandiri | 727 MW |
| Produksi listrik semester I-2026 | 2.745 GWh |
| Availability factor | 99,71 persen |
| Capacity factor | 90,42 persen |
Availability factor PGE mencapai 99,71 persen dan capacity factor berada pada 90,42 persen. Capaian itu menggambarkan kemampuan pembangkit panas bumi dalam menjaga pasokan listrik secara stabil.
Ketahanan pasokan tersebut memiliki arti penting karena panas bumi bersumber dari energi lokal. Berbeda dengan sumber energi yang memerlukan bahan bakar impor, panas bumi tersedia di dalam negeri dan dapat digunakan secara berkelanjutan.
Potensi Nasional yang Masih Terbuka Lebar
Indonesia menyimpan potensi panas bumi sekitar 24 GW. Namun, pemanfaatannya masih kurang dari 12 persen, sehingga ruang pengembangan energi ini masih sangat besar.
Di tengah ketidakpastian energi global, kondisi itu membuka peluang untuk memperkuat pasokan listrik nasional. PGE menempatkan panas bumi sebagai bagian dari agenda ketahanan dan kedaulatan energi Indonesia pada momentum HUT ke-81 Republik Indonesia.
Dari Pembangkit ke Pertanian
PGE juga mengembangkan pemanfaatan langsung panas bumi bagi masyarakat di sekitar daerah operasi. Di Ulubelu, Lampung, program Melon Geothermal menggabungkan penggunaan panas bumi dengan transfer pengetahuan kepada petani lokal.
Di Lahendong, Sulawesi Utara, PGE bersama Universitas Gadjah Mada mengembangkan pupuk booster Katrili berbahan silika panas bumi. Produk itu ditujukan untuk membantu peningkatan hasil panen dan ketahanan tanaman, sekaligus menekan biaya pupuk.
Program Eco Eduwisata Kampung Kopi di Karaha menghasilkan Pupuk COMBINE dari brine panas bumi dan bahan organik setempat. Di Kamojang, petani bersama PGE sejak 2018 memanfaatkan uap buangan dari steam trap melalui Geothermal Dry House untuk mempercepat pengeringan kopi.
Ahmad Yani menyatakan PGE memandang masa depan panas bumi dengan optimisme. Perseroan berencana terus menjaga operasi, mempercepat pengembangan proyek, dan memperluas manfaat energi panas bumi bagi perekonomian nasional.






