Saat Persalinan Berubah, 4 Situasi yang Membuat Caesar Lebih Aman

Operasi caesar dapat menjadi pilihan paling aman ketika kondisi ibu atau bayi berubah di tengah proses persalinan. Dalam situasi tertentu, melanjutkan kelahiran pervaginam justru dapat meningkatkan risiko yang perlu dihindari.

Rencana lahiran normal tetap dapat disusun sejak masa kehamilan, tetapi perkembangannya harus dipantau hingga persalinan selesai. Sekitar satu dari lima ibu yang mencoba melahirkan normal berpotensi menghadapi masalah saat proses kelahiran, menurut Dr. dr. Ivan Rizal Sini, MD, FRANZCOG, Sp.OG.

Keputusan didasarkan pada perkembangan persalinan

Perubahan metode persalinan tidak selalu dapat diprediksi hanya dari kondisi kehamilan sebelumnya. Ibu yang tidak memiliki keluhan berarti selama hamil pun dapat mengalami keadaan yang membutuhkan tindakan medis saat berada di ruang bersalin.

Dokter menilai kondisi ibu, bayi, serta kemajuan kelahiran sebelum menentukan perlunya operasi caesar. Keselamatan keduanya menjadi pertimbangan utama ketika rencana awal tidak lagi menjadi pilihan paling aman.

SituasiRisiko dalam persalinan pervaginam
Gawat janin atau kebutuhan tindakan segeraKondisi bayi dapat memburuk bila penanganan terlambat.
Persalinan tidak majuPembukaan serviks atau penurunan bayi tidak berkembang.
Bayi besarUkuran kepala dan tubuh bayi dapat sulit melewati panggul.
Sungsang, melintang, atau plasenta previaPosisi dan komplikasi dapat meningkatkan risiko kelahiran normal.

1. Tanda bayi memerlukan penanganan cepat

Dokter dapat menyarankan operasi caesar bila ditemukan kondisi yang membuat persalinan pervaginam berisiko bagi bayi. Penanganan segera dibutuhkan agar risiko terhadap bayi tidak meningkat selama proses kelahiran.

WHO menyebut operasi caesar dapat diperlukan apabila persalinan pervaginam berpotensi membahayakan ibu atau bayi. Persalinan yang terlalu lama, tanda gawat janin, dan posisi bayi tidak normal termasuk contoh kondisi yang dapat menjadi pertimbangan.

Keputusan tersebut tidak berarti ibu gagal melahirkan normal. Operasi caesar dilakukan sebagai tindakan medis ketika keselamatan menjadi prioritas yang tidak dapat ditunda.

2. Persalinan berhenti atau tidak berkembang

Gangguan kemajuan persalinan disebut labor arrest atau labor dystocia. Kondisi ini terlihat ketika pembukaan serviks atau turunnya bayi tidak berkembang sebagaimana mestinya.

ACOG memasukkan gangguan kemajuan persalinan sebagai salah satu indikasi operasi caesar dalam pedoman yang diperbarui pada 2024. Penilaian dilakukan berdasarkan perkembangan proses kelahiran saat ibu sudah menjalani persalinan.

Tim medis akan memantau apakah persalinan masih dapat dilanjutkan dengan aman. Bila tidak ada kemajuan yang memadai, operasi caesar dapat dipilih untuk mengurangi risiko.

3. Ukuran bayi terlalu besar

Bayi berukuran besar dapat menghadapi kesulitan saat kepala dan tubuhnya melewati panggul ibu. Kondisi itu tidak langsung berarti operasi caesar wajib dilakukan pada semua kehamilan.

Dokter akan mempertimbangkan operasi bila ukuran bayi membuat proses kelahiran normal berisiko atau sulit berlangsung. Ivan menjelaskan bahwa diabetes selama kehamilan dapat berkaitan dengan ukuran bayi yang lebih besar.

Pengendalian asupan gula selama hamil juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Faktor risiko yang masih dapat diubah dapat dipantau melalui perawatan kehamilan yang baik.

4. Posisi bayi dan plasenta previa

Posisi sungsang atau melintang dapat menjadikan persalinan pervaginam tidak aman dalam kondisi tertentu. Dokter perlu menilai posisi bayi sekaligus kemungkinan risiko selama kelahiran.

Selain posisi bayi, plasenta previa dapat menjadi alasan kuat untuk melakukan operasi caesar. ACOG juga menyebut ruptur uteri sebagai salah satu kondisi ketika caesar dapat menjadi metode persalinan paling aman.

Dukungan untuk bayi setelah caesar

Persalinan pervaginam dan caesar memang berbeda dalam paparan mikrobiota awal bayi. Namun, bayi yang lahir melalui operasi caesar tidak otomatis memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah.

Kontak kulit ke kulit dapat diberikan setelah kelahiran pada kondisi yang sesuai. Kangaroo Mother Care membantu menjaga suhu tubuh bayi dan mendukung proses menyusui.

Pendekatan tersebut dapat diterapkan dalam Family Integrated Care serta perawatan Kangaroo Mother Care di unit perawatan intensif neonatal. Edukasi antenatal hingga masa tumbuh kembang membantu keluarga memahami perawatan ibu dan bayi setelah persalinan.

Baca Juga