Yuan China kini tidak hanya digunakan dalam pembayaran perdagangan di Afrika, tetapi juga mulai masuk ke urusan utang negara dan penerimaan dari sektor tambang. Kenya telah mengonversi utang proyek kereta api ke yuan, sedangkan Zambia sejak Januari memungut pajak dan royalti perusahaan tambang China dalam mata uang tersebut.
Langkah itu menunjukkan perubahan yang lebih luas daripada sekadar pilihan teknis pembayaran. Negara-negara Afrika sedang membangun opsi transaksi baru di tengah hubungan perdagangan dan pembiayaan yang semakin dalam dengan China.
Utang dan Pungutan Negara Menjadi Penanda
Konversi utang proyek kereta api Kenya ke yuan dilakukan tahun lalu. Ethiopia dan Mozambik juga tengah membahas kemungkinan melakukan langkah serupa dalam pembiayaan mereka.
Bagi negara dengan kewajiban finansial besar kepada China, penggunaan yuan dapat menyesuaikan struktur pembayaran dengan mata uang yang digunakan pemberi pinjaman. Perubahan tersebut berlangsung bersamaan dengan meningkatnya kebutuhan penyelesaian transaksi dagang secara langsung.
Zambia memilih jalur berbeda dengan menerapkan yuan pada pajak dan royalti dari perusahaan tambang China. Kebijakan yang berjalan sejak Januari itu memperlihatkan bahwa penggunaan mata uang China telah menjangkau transaksi di luar pembiayaan proyek.
Libya juga berencana menerbitkan panda bond untuk mendukung pembiayaan rekonstruksi setelah bertahun-tahun dilanda konflik. Panda bond adalah obligasi berdenominasi yuan yang dijual oleh entitas asing di pasar China.
Bank Mulai Terhubung ke CIPS
Perluasan yuan didukung oleh Cross-Border Interbank Payment System atau CIPS, sistem pembayaran lintas batas milik China. Sistem tersebut digunakan untuk menunjang transaksi internasional berbasis yuan dan diposisikan sebagai alternatif bagi jaringan SWIFT.
Bank-bank Libya dijadwalkan bergabung dengan CIPS setelah pertemuan Gubernur Bank Sentral Libya Naji Issa dan Gubernur Bank Sentral China Pan Gongsheng di Beijing bulan lalu. Kantor berita pemerintah Libya menyatakan langkah itu dapat memungkinkan pembayaran antarbank langsung dalam yuan untuk kegiatan perdagangan.
Skema tersebut diharapkan mempercepat transfer lintas negara, menyederhanakan transaksi komersial, serta meningkatkan arus perdagangan. African Export-Import Bank dan Standard Bank dari Afrika Selatan telah lebih dahulu terhubung dengan CIPS.
Di Angola, Banco de Fomento Angola tengah mempersiapkan diri untuk menjadi bank pertama di negara itu yang bergabung dengan sistem tersebut. Persiapan ini dilakukan ketika permintaan atas penyelesaian transaksi dalam yuan meningkat.
| Pihak | Bentuk Penggunaan Yuan | Status |
|---|---|---|
| Kenya | Konversi utang proyek kereta api | Telah dilakukan tahun lalu |
| Zambia | Pajak dan royalti perusahaan tambang China | Berlaku sejak Januari |
| Libya | Pembayaran antarbank dan rencana panda bond | Bank dijadwalkan bergabung dengan CIPS |
| Angola | Penyelesaian transaksi melalui CIPS | Dalam persiapan |
Perdagangan Menjadi Pendorong Utama
Menurut laporan Kompas yang mengutip South China Morning Post, tren ini berjalan seiring dengan menguatnya hubungan perdagangan dan pembiayaan China-Afrika. Nilai perdagangan bilateral China-Afrika mencapai rekor 203,5 miliar dollar AS pada paruh pertama tahun ini.
China memperkirakan perdagangan sepanjang tahun akan kembali mencetak rekor. Besarnya nilai transaksi tersebut meningkatkan kebutuhan terhadap sistem pembayaran yang cepat dan efisien bagi pelaku usaha serta lembaga keuangan kedua pihak.
China saat ini merupakan mitra dagang terbesar Afrika dan salah satu penyandang dana utama proyek infrastruktur di benua tersebut. Kondisi itu membuat transaksi langsung dalam yuan menjadi pilihan yang relevan bagi negara-negara dengan aktivitas ekonomi besar bersama China.
China juga memiliki perjanjian pertukaran mata uang dengan beberapa negara Afrika, termasuk Nigeria dan Afrika Selatan. Perjanjian itu dapat mendukung penggunaan yuan dan mata uang lokal dalam transaksi para pihak.
Belum Menggeser Dollar AS
Penggunaan yuan yang meluas belum menandakan berakhirnya dominasi dollar AS. Peran yuan masih terutama menjadi alternatif dalam perdagangan dan pembiayaan antara China, negara-negara Afrika, serta mitra di Global South.
Lauren Johnston dari AustChina Institute menilai penggunaan yuan dibanding mata uang pihak ketiga seperti dollar AS atau euro dapat mempermudah perdagangan. Kai Xue, pengacara korporasi berbasis di Beijing, menilai perluasan CIPS merupakan bagian dari pembangunan bertahap sistem pembayaran global berbasis yuan.






