Traktat Jakarta 2026 Jadi Penanda Baru Kedekatan Strategis Indonesia dan Australia

Penandatanganan Traktat Jakarta 2026 menjadi penegasan baru atas komitmen Indonesia dan Australia untuk menjaga perdamaian serta stabilitas kawasan. Kesepakatan itu ditandatangani Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese pada awal tahun ini.

Albanese menilai tindakan bersama merupakan cara terbaik untuk menjaga kondisi kawasan tetap aman. Ia menyampaikan pandangan itu saat memberikan ucapan selamat atas HUT ke-81 RI di Gedung Parlemen Australia, Canberra.

Komitmen Bersama untuk Kawasan

“Perjanjian tersebut menegaskan bahwa cara terbaik untuk menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan kita adalah dengan bertindak bersama,” kata Albanese. Ia menyebut Traktat Jakarta sebagai bukti bahwa hubungan kedua negara semakin kuat dan kokoh.

Traktat tersebut turut menegaskan kembali komitmen dalam Perjanjian Lombok 2006. Salah satu poin pentingnya adalah penghormatan Australia terhadap integritas wilayah dan kedaulatan Indonesia.

Albanese mengatakan sikap Australia itu memperoleh dukungan bipartisan di parlemen. Dukungan lintas politik tersebut memperlihatkan hubungan dengan Indonesia memiliki arti strategis yang melampaui agenda satu pemerintahan.

AgendaWaktuPesan Utama
Indonesia menjadi kunjungan bilateral pertama Albanese2022Menunjukkan prioritas hubungan bilateral
Indonesia kembali menjadi tujuan pertama pascapemilihan2025Prioritas hubungan tetap berlanjut
Traktat Jakarta ditandatanganiAwal 2026Memperkuat kerja sama menjaga stabilitas

Indonesia dalam Pandangan Australia

Dalam pidatonya, Albanese menempatkan Indonesia sebagai negara yang sangat penting bagi keamanan Australia. Ia menyatakan tidak ada hubungan yang lebih penting bagi Australia dibandingkan hubungan dengan Indonesia.

Menurut Albanese, kedekatan geografis bukan satu-satunya alasan pentingnya hubungan tersebut. Keamanan Australia, katanya, bergantung pada keamanan kawasan dan pada Indonesia yang bersatu, stabil, serta berdaulat.

“Sebagaimana dulu maupun sekarang, perdamaian, keamanan, dan stabilitas Australia bergantung pada keamanan kawasan kita, dan pada saatnya, bergantung pada Indonesia yang bersatu, stabil, dan berdaulat,” ujar Albanese. Pernyataan ini menekankan keterkaitan kepentingan keamanan kedua negara.

Prioritas itu juga terlihat dari pola kunjungan luar negeri Albanese. Indonesia menjadi tujuan kunjungan bilateral pertamanya pada 2022, lalu kembali menjadi tujuan pertama setelah ia terpilih pada 2025.

Landasan Sejarah hingga Duka Gempa NTT

Albanese mengingat perjuangan rakyat Indonesia meraih kemerdekaan sebagai salah satu peristiwa penting pada Abad ke-20. Ia menyebut Australia termasuk negara yang lebih awal mengakui Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.

Pengakuan tersebut menjadi bagian dari landasan sejarah hubungan bilateral yang terus dikembangkan hingga kini. Pesan peringatan kemerdekaan itu juga disertai perhatian terhadap situasi kemanusiaan di Indonesia.

Albanese menyampaikan belasungkawa atas gempa di Nusa Tenggara Timur pada Sabtu, 15 Agustus. Bencana itu menewaskan sedikitnya 53 orang dan menyebabkan lebih banyak warga mengalami luka-luka.

Atas nama pemerintah dan rakyat Australia, ia menyatakan simpati kepada semua pihak yang terdampak. Sikap tersebut memperlihatkan kerja sama Indonesia-Australia juga hadir dalam masa duka dan kesulitan kemanusiaan.

Baca Juga