Kesaksian Doktif Diuji Lewat White Tomato, Tuduhan Rp200 Miliar Tetap Menggantung

Barang bukti White Tomato menjadi salah satu fokus pemeriksaan dalam sidang perkara dr Richard Lee di Pengadilan Negeri Tangerang. Kuasa hukum Richard Lee, Faizal Hafied, mempertanyakan konsistensi keterangan Doktif mengenai produk yang disebut dibeli, dipakai dalam konten, dan kemudian disita.

Faizal menampilkan video percakapan Doktif dengan Denny Sumargo di ruang sidang. Video itu memperlihatkan proses pembukaan produk dan pemeriksaan kemasannya, lalu dibandingkan dengan keterangan dalam BAP.

Ia menyoroti pertanyaan mengenai satu produk yang disebut tetap berada dalam kondisi lengkap meski telah dibuka dalam beberapa konten. Faizal juga mempersoalkan tidak ditemukannya nomor batch pada satu produk White Tomato yang disita.

Doktif menjawab bahwa produk yang ada padanya tidak seluruhnya dibeli secara pribadi. Menurutnya, banyak pasien di klinik menyerahkan produk White Tomato ketika pembicaraan mengenai produk tersebut ramai diperbincangkan.

DNA Salmon dan Selisih Waktu Pembelian

Perdebatan barang bukti tidak berhenti pada White Tomato karena produk DNA Salmon juga disorot dalam persidangan. Faizal mengaitkan produk itu dengan video unboxing yang disebut berlangsung di Hotel Pullman.

Berdasarkan nota pembelian yang dipaparkan, produk DNA Salmon yang disita pertama kali dibeli pada 23 Oktober 2024. Produk pembanding dalam video disebut dibeli pada 24 Oktober 2024, sedangkan aktivitas unboxing berlangsung pada 26 Oktober 2024.

Hal yang DipersoalkanData yang DipaparkanArti dalam Persidangan
Produk DNA Salmon sitaanDibeli 23 Oktober 2024Disebut pembelian pertama
Produk pembandingDibeli 24 Oktober 2024Dikaitkan dengan video unboxing
Video unboxing26 Oktober 2024Didasarkan pada nota pembelian

Faizal menilai rangkaian tanggal tersebut tidak sejalan dengan tanggal peristiwa pidana 12 Oktober yang tercantum dalam perkara. Perbedaan waktu itu menjadi bagian dari pertanyaan pembelaan terhadap barang bukti yang digunakan dalam proses hukum.

Tuduhan Rp200 Miliar Dibantah

Di tengah perdebatan mengenai produk, sidang pada Kamis (13/8/2026) juga diwarnai tudingan Richard bahwa Doktif meminta Rp200 miliar. Richard menyebut nominal itu diminta melalui rekannya, Ivan, agar perkara yang menjeratnya dihentikan.

Richard mengatakan pertemuan yang dipersoalkan disebut terjadi pada 16 Januari 2026 di sebuah rumah. Menurut keterangannya, Ivan diminta hadir tanpa membawa atau memegang telepon seluler.

Ia menyatakan Ivan kemudian diminta uang Rp200 miliar untuk membubarkan kasus tersebut. Richard juga menyebut memiliki foto yang berkaitan dengan pertemuan itu ketika mencecar Doktif di hadapan majelis hakim.

Doktif menolak keterangan bahwa ia pernah mengajak Ivan bertemu secara langsung. “Itu bohong Yang Mulia, saya tidak pernah mengajak Ivan bertemu,” ujar Doktif dalam sidang sebagaimana dilaporkan Suara.

Angka Rp250 Miliar Menurut Doktif

Usai sidang, Doktif menjelaskan bahwa ia tidak berniat menempuh perdamaian dalam perkara tersebut. Ia menyebut pembicaraan mengenai angka ratusan miliar berkaitan dengan kemungkinan pengembalian hak masyarakat.

Menurut Doktif, perhitungan yang didengarnya mengarah pada sekitar Rp250 miliar dari penjualan produk. “Kalau memang misalnya mau damai, ya kembalikan aja itu hak masyarakat,” katanya.

Dengan demikian, Richard Lee dan Doktif menyampaikan penjelasan yang berbeda atas angka ratusan miliar tersebut. Sidang Pengadilan Negeri Tangerang masih akan menguji keterangan para pihak serta relevansi barang bukti dalam perkara dugaan pelanggaran Undang-Undang Kesehatan dan Perlindungan Konsumen.

Baca Juga