Bulu kucing tidak menyebabkan perempuan mandul maupun mengalami keguguran. Hal yang perlu diwaspadai dalam kehamilan adalah paparan parasit Toxoplasma gondii yang dapat memicu toksoplasmosis.
Perbedaan ini penting karena kekhawatiran terhadap kucing sering berkembang menjadi kesimpulan yang keliru. Risiko tidak muncul semata-mata karena menyentuh atau memelihara kucing di rumah.
Bulu kucing memang dapat memicu alergi atau memperburuk asma pada sebagian orang. Namun, reaksi alergi tersebut bukan bentuk penularan toksoplasmosis dan tidak menjadi penyebab gangguan kesuburan.
Asal Paparan Tidak Hanya dari Kucing
Parasit toksoplasma dapat menjadi perhatian saat seseorang sedang hamil karena berisiko memengaruhi janin. Dampaknya dapat berkaitan dengan kecacatan janin dan keguguran, walaupun angkanya disebut kecil.
Menurut CNN Indonesia, paparan tidak hanya mungkin berasal dari kotoran hewan. Daging yang tidak dimasak hingga matang serta tanah yang terkontaminasi kotoran hewan juga dapat menjadi sumber paparan parasit.
Karena itu, menjaga kebersihan makanan dan lingkungan sama pentingnya dengan merawat hewan di rumah. Pengolahan daging hingga benar-benar matang menjadi salah satu langkah pencegahan yang perlu diperhatikan.
Penggunaan sarung tangan saat berkebun atau menyentuh tanah juga dapat membantu mengurangi kontak langsung dengan tanah yang mungkin terkontaminasi. Tangan perlu dicuci dengan sabun setelah memegang hewan dan sebelum makan.
Kucing Tidak Perlu Disingkirkan
Kucing dapat menjadi salah satu inang parasit dan mengeluarkannya melalui kotoran. Meski demikian, tidak setiap kucing membawa toksoplasma sehingga kucing peliharaan tidak perlu dianggap berbahaya secara otomatis.
Risiko lebih perlu mendapat perhatian pada kucing yang sering berada di luar rumah. Kucing dengan akses keluar rumah berpotensi memakan daging mentah atau hewan buruan, termasuk tikus, yang dapat meningkatkan peluang paparan parasit.
Perawatan kucing yang baik dapat membantu mengurangi kekhawatiran selama masa kehamilan. Pemilik dapat menjaga kebersihan area tempat kucing makan, tidur, dan bermain secara rutin.
Kucing juga sebaiknya tidak diberi daging mentah. Selama hamil, membersihkan kotoran atau pasir kucing sebaiknya dihindari dan dapat dialihkan kepada orang lain jika memungkinkan.
Penjelasan Dokter tentang Risiko Kehamilan
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Eka Hospital MT Haryono, Sita Ayu Arumi, menyatakan bahwa kucing bukan penyebab langsung keguguran maupun sulit hamil. Ia menekankan bahwa persoalan utamanya adalah infeksi toksoplasmosis, bukan keberadaan kucing itu sendiri.
“Kalau terinfeksi tokso, nanti saat hamil bisa terkena itu. Efeknya bisa kecacatan janin dan keguguran, tapi angkanya kecil. Kalau sulit hamil, enggak,” kata Sita dalam keterangannya pada temu media di Jakarta Selatan.
Keguguran sendiri dapat dipengaruhi berbagai faktor. Kondisi dan kualitas janin, termasuk faktor genetik, merupakan salah satu hal yang perlu menjadi perhatian.
Kualitas sperma dan sel telur, infeksi, serta kelainan bawaan juga dapat berperan. Penilaian terhadap kesehatan kehamilan karena itu tidak dapat dibatasi hanya pada ada atau tidaknya kucing di dalam rumah.
Pemeriksaan kesehatan sebelum dan selama kehamilan dapat membantu mengenali faktor yang berpotensi memengaruhi kondisi ibu dan janin. Langkah pencegahan yang konsisten memungkinkan pemilik tetap merawat kucing tanpa mengabaikan kebersihan.






