Rekaman video yang memperlihatkan aksi saling dorong dan kekerasan di Festival Indonesia di Chiba memicu perhatian publik. KBRI Tokyo kemudian meminta panitia memberikan pertanggungjawaban dan laporan kronologi lengkap mengenai insiden tersebut.
Panitia telah memenuhi pemanggilan yang dilakukan pihak kedutaan dan menyerahkan keterangan terkait kejadian itu. KBRI menilai penjelasan menyeluruh diperlukan agar semua detail dapat dipahami secara tepat.
Kericuhan Berlangsung Singkat
Koordinator Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Tokyo, Muhammad Al Aula, mengonfirmasi bahwa gesekan fisik memang terjadi saat acara berlangsung. Meski demikian, situasi memanas itu disebut hanya berlangsung sekitar tiga hingga lima menit sebelum berhasil diredam.
Kesigapan panitia menjadi faktor utama dalam penanganan di lokasi. Pengunjung, termasuk warga negara Indonesia yang hadir, juga disebut membantu mengakhiri ketegangan tersebut.
“Memang betul terjadi kericuhan saat pelaksanaan kegiatan sekitar 3 sampai 5 menit dan reda karena kesigapan panitia serta juga kesadaran dari WNI yang hadir pada kegiatan tersebut,” ujar Al Aula kepada Kompas.com, Jumat (14/8/2026).
Festival berlangsung di Chiba Chuo Park, Kota Chiba, Jepang, selama 8 hingga 9 Agustus 2026. Kericuhan terjadi pada Minggu, 9 Agustus 2026, ketika agenda festival memasuki hari kedua.
| Rincian | Keterangan |
|---|---|
| Tempat kegiatan | Chiba Chuo Park, Chiba, Jepang |
| Pelaksanaan festival | 8-9 Agustus 2026 |
| Tanggal insiden | 9 Agustus 2026 |
| Situasi memanas | Sekitar 3-5 menit |
KBRI Tokyo menyatakan Festival Indonesia di Chiba secara keseluruhan tetap berjalan baik meski insiden sempat terjadi. Video yang tersebar hanya menangkap bagian ketika suasana di tengah kerumunan memanas.
Belum Ada Laporan Penanganan Polisi
Hingga keterangan itu disampaikan, KBRI Tokyo belum menerima laporan mengenai WNI yang diamankan oleh kepolisian Jepang. Informasi tersebut menjadi salah satu penegasan resmi terkait dampak langsung dari kericuhan di lokasi acara.
“Sampai saat ini KBRI tidak menerima laporan adanya WNI yang diamankan oleh pihak kepolisian Jepang,” kata Al Aula.
Pihak kedutaan menempatkan laporan panitia sebagai bagian dari langkah tindak lanjut setelah insiden tersebut. Keterangan dari penyelenggara diharapkan dapat menjelaskan rangkaian peristiwa secara lengkap di tengah perhatian terhadap rekaman video.
“KBRI juga sudah memanggil panitia dan mendapat laporan yang lengkap terkait kejadian yang kini banyak diperbincangkan,” tutur Al Aula.
KBRI Tokyo mengingatkan masyarakat Indonesia di Jepang agar menjaga ketertiban umum dalam kegiatan kemasyarakatan. Acara budaya semestinya menjadi sarana promosi Indonesia dan ruang mempererat hubungan antarwarga.
Imbauan itu juga berkaitan dengan pentingnya membangun pemahaman bersama masyarakat lokal Jepang. Kegiatan komunitas yang terbuka diharapkan berlangsung aman serta mencerminkan nama baik Indonesia.
Wakil Ketua sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Konservatif Jepang, Kaori Arimoto, turut memberikan respons melalui akun X pribadinya. Ia mendesak agar warga asing yang terlibat perkelahian dipulangkan ke negara asal jika identitas mereka dapat diverifikasi dari rekaman video.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan pribadi Arimoto di media sosial, bukan keputusan aparat atau pengumuman pemerintah Jepang. Tindak lanjut KBRI Tokyo kini berfokus pada koordinasi dengan panitia dan penguatan imbauan ketertiban.






