Permainan tarik-menarik, pukul bantal, hingga lomba yang menuntut peserta berlari cepat dapat memicu cedera bila tubuh belum siap. Ancaman terbesar muncul saat peserta bergerak spontan, terpeleset, atau jatuh ketika berusaha mempertahankan keseimbangan.
Perayaan HUT Kemerdekaan RI memang lekat dengan tawa dan sorakan warga. Meski demikian, suasana meriah tidak menghilangkan tekanan yang dapat diterima otot, sendi, bahu, serta ligamen saat perlombaan berlangsung.
Jatuh dapat memperluas risiko
Jatuh bukan hanya dapat meninggalkan lecet atau memar pada peserta. Dalam situasi tertentu, kejadian itu berhubungan dengan risiko cedera kepala, patah tulang pada pergelangan tangan atau lengan, terutama ketika tangan digunakan untuk menahan tubuh.
Permukaan permainan yang licin membuat kemungkinan terpeleset semakin besar. Posisi tubuh yang tidak tepat saat menerima benturan juga dapat menambah tekanan pada bagian tubuh tertentu.
| Jenis Risiko | Keluhan atau Cedera yang Dapat Terjadi |
|---|---|
| Ringan | Lecet, memar, keseleo, strain otot, dan nyeri setelah aktivitas |
| Lebih serius | Dislokasi bahu, patah tulang pergelangan tangan atau lengan, cedera ligamen, dan cedera kepala akibat jatuh |
Keluhan ringan menjadi jenis cedera yang paling sering dialami peserta lomba Agustusan. Namun, kemungkinan cedera yang lebih serius tetap ada apabila permainan disertai jatuh, benturan, atau gerakan yang tidak terkendali.
Aktivitas eksplosif sering diremehkan
Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Mayapada Hospital, dr Oryza Satria, SpOT(K), menyebut aktivitas eksplosif sebagai pola yang kerap berkaitan dengan cedera saat lomba 17-an. Menarik kuat, menahan beban tubuh, berlari, dan berganti arah mendadak dapat memberi beban yang tidak biasa pada otot serta sendi.
Permainan tersebut sering dipandang sekadar hiburan sehingga persiapan tubuh kerap dilewatkan. Padahal, aktivitas yang tidak menjadi kebiasaan harian dapat membuat peserta lebih mudah mengalami keluhan sesudah lomba.
Tarikan kuat dapat memberi tekanan pada bahu dan ligamen, terutama ketika gerakan dilakukan mendadak. Dorongan serta upaya menjaga keseimbangan dalam waktu singkat juga perlu mendapat perhatian dari peserta.
Kesiapan fisik menjadi bagian dari keselamatan
Menurut dr Oryza, cedera tidak selalu disebabkan oleh lomba yang tergolong ekstrem. Faktor yang sering luput justru pelaksanaan aktivitas eksplosif tanpa persiapan fisik dan pemanasan memadai.
“Menariknya, masalahnya sering bukan karena lombanya ekstrem, tetapi karena pesertanya melakukan aktivitas eksplosif tanpa persiapan fisik dan pemanasan yang memadai,” kata dr Oryza kepada health.detik.com. Peserta perlu memperhatikan kondisi tubuh sebelum mengikuti permainan yang mengandalkan tenaga, kecepatan, dan keseimbangan.
Rasa sakit atau ketidaknyamanan selama perlombaan juga perlu menjadi sinyal yang diperhatikan. Semangat Agustusan dapat tetap terjaga dengan tidak menyepelekan pemanasan, risiko permukaan licin, dan kemungkinan jatuh saat bermain.






