Saat Pertalite Ditata, Pengguna Motor Listrik Berpeluang Pangkas Biaya BBM

Rencana penataan akses Pertalite dapat mengubah perhitungan biaya perjalanan bagi pengguna sepeda motor. Bagi masyarakat yang siap berpindah, motor listrik berpeluang memangkas pengeluaran BBM sekitar Rp2,68 juta per tahun untuk setiap unit.

Angka penghematan itu pernah dihitung oleh Kementerian ESDM. Peralihan ke kendaraan roda dua berbasis baterai juga dinilai dapat mengurangi kebutuhan BBM dalam jumlah besar apabila adopsinya meluas.

Jutaan Motor Membuka Potensi Pengurangan BBM

Indonesia memiliki basis pengguna sepeda motor yang sangat besar. Data Badan Pusat Statistik pada 2025 menunjukkan jumlah populasi sepeda motor mencapai sekitar 139,45 juta unit.

Skala tersebut membuat pengurangan pemakaian BBM dari kendaraan roda dua menjadi penting dalam pembahasan energi dan subsidi. Semakin banyak unit yang beralih, semakin besar pula potensi penghematan bahan bakar secara nasional.

Target PeralihanEstimasi BBM yang Berkurang per Tahun
1 juta motorSekitar 356 juta liter
5 juta motorSekitar 1,78 miliar liter
10 juta motorSekitar 3,56 miliar liter

Estimasi tersebut menggunakan rasio dari perhitungan Kementerian ESDM. Lembaga itu pada 2022 memperkirakan 900 ribu motor listrik dapat menekan konsumsi BBM hingga sekitar 320 juta liter per tahun.

Penggunaan 900 ribu unit itu juga diperkirakan dapat mengurangi kompensasi Pertalite sekitar Rp480 miliar per tahun. Meski begitu, besaran penghematan aktual bergantung pada intensitas penggunaan kendaraan serta jenis BBM yang dipakai sebelumnya.

Subsidinya Diarahkan kepada yang Membutuhkan

Pemerintah sedang mengkaji pembatasan akses Pertalite secara bertahap bagi masyarakat mampu, termasuk kelompok pengeluaran desil 9 dan 10. Isu tersebut kembali dibahas setelah pertemuan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

Penataan ini dipandang tidak semata-mata sebagai pembatasan bahan bakar bersubsidi. Kebijakan tersebut juga dapat mendorong tersedianya pilihan mobilitas yang lebih hemat bagi konsumen yang memiliki kemampuan untuk berganti kendaraan.

Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia menilai subsidi sebaiknya lebih terarah kepada masyarakat yang benar-benar memerlukannya. Pada saat yang sama, konsumen yang siap menggunakan kendaraan listrik dapat menimbang biaya operasionalnya yang lebih rendah.

Ketua Umum Aismoli Budi Setiyadi menyebut pilihan motor listrik semakin beragam. Menurutnya, kendaraan yang lebih efisien dapat membantu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap BBM.

Harga dan Layanan Masih Menjadi Tantangan

Peralihan tidak akan terjadi hanya karena kebijakan BBM berubah. Produk yang aman, berkualitas, ekonomis, dan praktis untuk aktivitas sehari-hari tetap diperlukan untuk meyakinkan konsumen.

Harga kendaraan yang lebih terjangkau menjadi salah satu persoalan yang masih disorot industri. Selain itu, calon pengguna membutuhkan kepastian mengenai suku cadang dan layanan purnajual.

Jaringan pengisian daya serta fasilitas penukaran baterai juga berperan dalam perluasan penggunaan motor listrik. Perlindungan konsumen perlu diperkuat agar pengguna memperoleh kepastian saat memakai kendaraan berbasis baterai.

Budi mengatakan, “Yang ingin kita bangun bukan sekadar lebih banyak motor listrik di jalan. Kita ingin masyarakat memiliki pilihan mobilitas yang semakin ekonomis sekaligus membantu Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap BBM.”

Ekosistem yang utuh membutuhkan keterlibatan produsen kendaraan, produsen baterai, industri komponen, bengkel, jaringan distribusi, dan penyedia infrastruktur. Kesiapan unsur-unsur tersebut akan menentukan kemampuan motor listrik menjadi alternatif praktis ketika akses Pertalite ditata.

Baca Juga