Perdebatan mengenai upah buruh pengupas bawang sebesar Rp700 ribu per kilogram berawal dari bagian pidato Presiden Prabowo Subianto di Senayan. Istana menegaskan bahwa pernyataan itu disampaikan dalam konteks pengenalan penerima bantuan Program Keluarga Harapan.
Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi meminta masyarakat tidak berhenti pada satu potongan kalimat. Ia mendorong publik menilai pesan besar pidato Presiden secara utuh.
Fokus pada Keluarga Penerima Bantuan
Tokoh yang disebut Prabowo dalam pidato tersebut adalah Susanah, warga Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ia diperkenalkan sebagai buruh harian yang bekerja mengupas bawang.
Presiden menyampaikan bahwa Susanah menerima dukungan melalui Program Keluarga Harapan dan program sembako. Bantuan itu disebut membantu menjaga pendidikan anak-anak dalam keluarganya.
“Hari ini, hadir bersama kita Ibu Susanah dari Kabupaten Bogor. Ia bekerja sebagai buruh harian, mengupas bawang dengan upah Rp 700.000 per kilogram,” ujar Prabowo.
Bagian mengenai nominal upah kemudian beredar luas di ruang digital. Angka tersebut memunculkan pertanyaan dari banyak warganet mengenai kesesuaiannya dengan realitas pekerjaan serupa.
Hasan Nasbi Singgung Algoritma Digital
Hasan menanggapi polemik itu setelah pidato kenegaraan Presiden di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, 17 Agustus 2026. Ia mengatakan penggalan singkat kerap mendapat perhatian lebih besar ketika tersebar melalui platform digital.
“Kita pikirkan substansi dari pidato besar presiden ya. Yang satu kalimat, dua kalimat digoreng itu saya rasa kita harus belajar untuk tidak terfokus,” kata Hasan.
Menurut Hasan, algoritma dapat membuat satu atau dua kalimat menjadi lebih cepat tersebar dan diperbincangkan. Karena itu, ia meminta masyarakat melihat gagasan yang melingkupi pernyataan tersebut.
“Itu algoritma juga ya. Satu kalimat, dua kalimat, tapi pikirkan substansi besar dan gagasan besar dari pidato presiden,” tegas Hasan.
Pernyataan dalam Agenda Sidang Senayan
Pidato Prabowo yang memuat cerita tentang Susanah disampaikan pada Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama DPR-DPD. Acara itu berlangsung di ruang sidang paripurna, Senayan, Jakarta, pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Dalam rangkaian pidato tersebut, Presiden mengaitkan bantuan sosial dengan kebutuhan keluarga penerima. Perhatian terhadap pendidikan anak-anak Susanah menjadi bagian dari konteks yang disampaikan.
Istana memandang diskusi mengenai upah pengupas bawang perlu ditempatkan bersama keseluruhan pesan pidato. Pesan tersebut mencakup peran bantuan sosial bagi keluarga yang membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan dan pendidikan anak.
Polemik yang muncul memperlihatkan cepatnya potongan pidato membentuk percakapan publik di media sosial. Hasan meminta agar pembahasan tidak hanya terpaku pada nominal yang ramai dibicarakan, melainkan juga pada gagasan besar yang dibawa Presiden.






