Bagian depan Hotel Jayakarta di Labuan Bajo roboh setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu subuh. Dua turis asal China terluka saat berusaha menyelamatkan diri dari bangunan hotel bintang empat tersebut.
Kerusakan meliputi tembok depan yang ambruk serta plafon lantai satu yang jebol. Kedua korban kemudian dibawa ke rumah sakit dengan luka di punggung, hidung, dan kaki, menurut keterangan kerabat yang dilansir detikBali.
Guncangan gempa juga berdampak pada aktivitas wisata di Taman Nasional Komodo. Sejumlah wisatawan asing yang sedang menyaksikan matahari terbit dari puncak Pulau Padar dievakuasi oleh pemandu wisata setempat.
Pemandu dengan akun Instagram @s_toni berusaha menjaga rombongan tetap tenang selama evakuasi berlangsung. “Jangan panik guys,” kata pemilik akun tersebut.
Reo Mencatat Gelombang Tertinggi
Dampak gempa tidak berhenti pada kerusakan bangunan dan evakuasi wisatawan. Tsunami juga terdeteksi di sejumlah pesisir, dengan gelombang tertinggi mencapai 1,61 meter di Reo, Manggarai dan Manggarai Timur.
Jaringan pemantauan muka air laut mencatat perbedaan tinggi gelombang di tiap wilayah. Maurole di Ende mencatat tsunami 0,94 meter, sedangkan Bulukumba dan Sape di Bima terdampak gelombang lebih dari 0,5 meter.
| Wilayah | Tinggi gelombang | Status pemantauan |
|---|---|---|
| Reo, Manggarai dan Manggarai Timur | 1,61 meter | Tertinggi yang tercatat |
| Maurole, Ende | 0,94 meter | Tsunami mendarat |
| Bulukumba dan Sape, Bima | Lebih dari 0,5 meter | Kenaikan muka air laut |
BMKG menerbitkan peringatan dini tsunami dalam waktu 2 menit 16 detik setelah gempa utama terjadi. Peringatan itu berakhir pada pukul 07.30 WIB setelah kondisi laut dinyatakan aman.
Sesar Aktif dan Ratusan Susulan
BMKG memutakhirkan kedalaman gempa menjadi 15 kilometer. Gempa dangkal itu dipicu Flores Back Arc Thrust, yakni aktivitas sesar naik busur belakang Flores.
Hingga pukul 14.00 WIB, jaringan pemantauan mencatat 235 gempa susulan di sekitar lokasi bencana. Rangkaian susulan tersebut menunjukkan aktivitas seismik masih berlangsung setelah guncangan utama.
Peta intensitas mencatat getaran hingga skala VII MMI di Aesesa, Riung, Kota Ambai, Manggarai, dan Ruteng. Guncangan pada tingkat itu dirasakan sangat kuat oleh warga di wilayah terdampak.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebut sesar aktif membutuhkan waktu untuk kembali stabil. Berdasarkan pola rekaman gempa merusak di Maluku Utara, peluruhan alami diperkirakan dapat berlangsung sekitar dua hingga tiga minggu.
Pemetaan untuk Rekonstruksi
BMKG menyiagakan tim ahli pusat dan 14 Unit Pelaksana Teknis di NTT untuk melakukan pemetaan mikrozonasi tanah. Data tersebut akan menjadi rujukan teknis dalam rekonstruksi bangunan yang lebih tahan terhadap gempa.
Masyarakat diminta tetap tenang, menghindari bangunan retak, dan mengikuti informasi resmi. Pemantauan dilakukan dengan jaringan 553 sensor seismograf yang tersebar di seluruh Indonesia.






