Pembentukan bursa mineral tidak otomatis akan mengerek harga komoditas Indonesia. Nilai penting dari pasar baru ini justru terletak pada peluang memperbaiki tata kelola, keterbukaan transaksi, dan pembentukan harga referensi yang kredibel.
Karena itu, ekonom Center of Reform on Economics Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai bursa tersebut sebaiknya tidak dibuka dengan terlalu banyak komoditas. Ia mengusulkan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis memulai perdagangan dari satu hingga dua produk saja.
Transparansi Lebih Penting dari Kenaikan Harga
Transaksi yang terbuka diharapkan dapat mempersempit praktik under-invoicing atau kurang faktur dalam perdagangan komoditas. Kondisi tersebut berpotensi memperbaiki basis pengenaan pajak sekaligus menekan biaya transaksi.
BMKS juga ditujukan untuk mempertemukan produsen, petani, eksportir, pembeli, dan investor dalam satu ekosistem perdagangan. Data transaksi yang transparan dibutuhkan agar pasar dapat berkembang lebih dalam dan likuid.
Likuiditas menjadi unsur penting karena harga referensi tidak cukup dibentuk hanya dengan membuka sarana perdagangan. Pasar harus memiliki transaksi aktif agar informasi harga yang dihasilkan benar-benar mencerminkan kondisi perdagangan.
Mulai dari Produk dengan Posisi Kuat
Yusuf mendorong pemerintah memilih komoditas awal yang memiliki posisi kuat bagi Indonesia di pasar global. Produk tersebut juga idealnya belum memiliki harga acuan dunia yang terlalu dominan.
Nickel pig iron atau NPI disebut sebagai salah satu pilihan yang patut dipertimbangkan. Posisi Indonesia dalam rantai pasok NPI dinilai dapat memberi peluang lebih besar untuk membangun tolok ukur harga baru.
“Produk seperti nickel pig iron lebih menarik karena kita bisa membangun tolok ukur baru, bukan langsung berhadapan dengan benchmark yang sudah puluhan tahun digunakan,” kata Yusuf, seperti dikutip Beritasatu.com pada Senin, 17 Agustus 2026.
Pendekatan itu berbeda dengan memilih komoditas yang sejak lama berada di bawah benchmark global mapan. Dengan jumlah produk yang terbatas, pembentukan transaksi dapat lebih difokuskan sebelum bursa diperluas ke komoditas lain.
| Tanggal | Pihak atau Agenda | Keterangan |
|---|---|---|
| 14 Agustus 2026 | Jumpa pers OJK | OJK menyebut sejumlah komoditas untuk BMKS telah ditetapkan, tanpa membuka rinciannya. |
| 1 Januari 2027 | Target operasional BMKS | Pemerintah menargetkan bursa mulai beroperasi dan mendukung Indonesia Reference Price. |
Daftar Komoditas Dinilai Terlalu Ambisius
Pemerintah menargetkan BMKS beroperasi mulai 1 Januari 2027 sebagai instrumen pembentukan Indonesia Reference Price. Komoditas yang disiapkan mencakup sawit, nikel, timah, batu bara, emas, kopi, dan karet.
Menurut Yusuf, memasukkan seluruh produk tersebut secara bersamaan pada awal 2027 merupakan target yang cukup ambisius. Risiko utamanya adalah setiap komoditas tidak segera memiliki volume transaksi yang memadai.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi sebelumnya menyatakan sejumlah mineral dan komoditas yang akan masuk BMKS telah ditetapkan. Namun, rincian produk perdana belum diumumkan karena OJK masih menunggu peraturan presiden sebagai dasar penyelenggaraan bursa.
Pemilihan komoditas awal pada akhirnya akan menentukan arah pengembangan pasar ini. Produk yang tepat dapat memberi Indonesia ruang membangun referensi harga tanpa langsung berhadapan dengan benchmark global yang telah mengakar lama.






