Bali dipandang memiliki nilai tambah yang kuat untuk menarik investor global, terutama karena aktivitas mereka berpotensi memberi dampak pada pariwisata. Namun, pemerintah memilih Jakarta sebagai lokasi awal PFII karena Bali masih memerlukan pembangunan infrastruktur fisik.
Pilihan tersebut membuat Pusat Finansial Internasional Indonesia dapat segera mulai bekerja tanpa menunggu seluruh kebutuhan pengembangan di Bali selesai. Pemerintah menempatkan dua kota itu dalam fungsi yang berbeda, tetapi tetap saling melengkapi dalam satu rencana.
Nilai Tambah Bali Bukan Hanya Finansial
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan investor global melihat Bali mempunyai keunggulan tersendiri. Keunggulan itu terkait pengalaman yang diperoleh investor ketika tinggal dan bekerja di kawasan tersebut.
Investor yang menjadi sasaran pengembangan PFII umumnya disebut memiliki daya beli besar. Karena itu, kehadiran mereka dinilai dapat mendorong pengeluaran yang turut menopang kegiatan pariwisata Bali.
“Kalau di Bali mereka bilang, ini eh ada plus-nya. Jadi begitu kerja, mereka juga bisa, meningkatkan pariwisata di Bali karena mereka mempunyai spending power yang cukup besar, kan, rata-rata gitu,” kata Rosan.
Pemerintah melihat potensi Bali melampaui fungsi sebagai lokasi kerja bagi pelaku industri keuangan. Akan tetapi, potensi tersebut masih membutuhkan dukungan pembangunan agar kawasan itu mampu menjalankan peran yang direncanakan.
Rosan menjelaskan pengembangan PFII di Bali tidak dapat langsung dilakukan karena terdapat kebutuhan infrastruktur fisik. Kondisi ini menjadi alasan Bali dipersiapkan sebagai lokasi tahap berikutnya, bukan titik awal operasional.
Jakarta Menjadi Titik Mulai Operasional
Jakarta dipilih sebagai lokasi sementara agar PFII tidak kehilangan momentum untuk mulai bekerja. Keputusan itu dikaitkan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar persiapan yang ada segera diwujudkan dalam kegiatan nyata.
Menurut Rosan, pemerintah ingin memulai operasional lebih cepat melalui kesiapan yang tersedia di Jakarta. “Lokasinya untuk awal ini memang di Jakarta dulu, kenapa? Karena Bapak Presiden ingin ini semua langsung kerja, ada momentumnya ya,” ujarnya.
Pemerintah telah menyiapkan lokasi PFII di Jakarta, walaupun titik persisnya belum dipublikasikan. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut kawasan tersebut akan diatur sebagai zona khusus.
Pengumuman detail mengenai lokasi itu akan disampaikan oleh otoritas terkait. Dengan demikian, informasi publik mengenai zona khusus PFII di Jakarta masih menunggu penjelasan lebih lanjut.
| Kota | Tahap Pengembangan | Fungsi Utama |
|---|---|---|
| Bali | Tahap berikutnya | Menarik investor global dan berpotensi mendukung pariwisata |
| Jakarta | Tahap awal | Memulai operasional PFII dengan segera |
Arah Pengembangan yang Bertahap
Rencana penggunaan Jakarta dan Bali sebelumnya telah disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan di DPR. Kedua kota tersebut disebut sebagai bagian dari pengembangan pusat finansial internasional Indonesia.
Pembagian peran itu memperlihatkan pilihan antara percepatan kerja dan pembangunan jangka berikutnya. Jakarta digunakan untuk memulai fungsi kelembagaan, sementara Bali disiapkan melalui proses pembangunan yang masih membutuhkan waktu.
Skema tersebut juga menegaskan bahwa pertimbangan pemerintah tidak hanya bertumpu pada satu lokasi. Jakarta dinilai penting untuk kesiapan awal, sedangkan Bali diproyeksikan memberi daya tarik tambahan bagi investor internasional.
Keberlanjutan pengembangan di Bali akan bergantung pada kesiapan infrastruktur fisik yang diperlukan. Sementara itu, PFII di Jakarta disiapkan untuk menjadi pintu awal pelaksanaan agenda pemerintah di sektor finansial internasional.






