Target defisit APBN 2027 sebesar 2,40 persen terhadap produk domestik bruto dapat memberi sinyal positif bagi pasar Surat Berharga Negara. Defisit yang terjaga membuat kebutuhan penerbitan utang pemerintah lebih mudah diperkirakan oleh investor.
Namun, manfaat tersebut belum otomatis menjamin yield SBN tenor 10 tahun turun menuju asumsi 6,9 persen. Pelemahan rupiah dan kebutuhan refinancing surat utang yang jatuh tempo tetap menjadi faktor yang dapat menjaga tekanan di pasar obligasi.
RAPBN 2027 memakai asumsi nilai tukar Rp17.500 per dolar AS. Sementara itu, nilai tukar di pasar bergerak pada kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS.
Ekonom Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai risiko kurs berperan besar dalam pembentukan yield obligasi pemerintah. Rupiah yang bertahan lemah akan meningkatkan premi risiko yang diminta investor.
“Jika rupiah tetap lemah, ruang penurunan yield akan lebih terbatas karena premi risiko nilai tukar masih menjadi salah satu komponen penting dalam pembentukan yield SBN,” ujar Yusuf. Karena itu, pencapaian asumsi 6,9 persen memerlukan kondisi nilai tukar yang lebih stabil.
Selisih Yield Masih Dalam Batas Wajar
Yield SUN tenor 10 tahun di pasar saat ini berada sekitar 7,2 persen. Angka itu lebih tinggi dari asumsi RAPBN 2027, tetapi selisih 25 hingga 30 basis poin masih dinilai wajar secara historis.
Yusuf menekankan bahwa asumsi pemerintah tidak dimaksudkan sebagai target yield pada akhir tahun. Nilai 6,9 persen merupakan rata-rata tahunan yang dipakai untuk menghitung biaya bunga utang pemerintah.
| Indikator | Angka | Posisi |
|---|---|---|
| Asumsi yield SBN 10 tahun | 6,9 persen | RAPBN 2027 |
| Yield SUN 10 tahun | 7,2 persen | Pasar saat ini |
| Rentang proyeksi Core Indonesia | 6,7–7,4 persen | Sepanjang 2027 |
| Rata-rata proyeksi | 7,0–7,1 persen | Perkiraan 2027 |
Core Indonesia memproyeksikan yield SUN tenor 10 tahun bergerak antara 6,7 persen hingga 7,4 persen sepanjang 2027. Rata-rata tahunan yield diperkirakan berada di rentang 7,0 persen sampai 7,1 persen.
Inflasi Memberi Ruang, Global Menentukan Arah
Inflasi domestik yang terkendali memberi dasar bagi peluang penurunan yield. Inflasi Juli 2026 tercatat 2,88 persen, sedangkan inflasi inti mencapai 2,76 persen.
Dengan inflasi tersebut, imbal hasil riil SBN masih relatif tinggi. Kondisi ini dapat menjadi penopang minat investor, meski arah suku bunga global tetap menentukan.
“Ruang penurunan yield sebenarnya ada, tetapi sangat bergantung pada arah suku bunga global dan kebijakan BI,” kata Yusuf Rendy Manilet. Kebijakan Bank Indonesia akan memengaruhi penilaian pasar terhadap instrumen utang berdenominasi rupiah.
Respons investor setelah penyampaian RAPBN 2027 juga menunjukkan kehati-hatian pada tenor panjang. Pasar dinilai lebih cepat menangkap ekspektasi penurunan suku bunga melalui instrumen berjangka pendek.
Lelang dan Keputusan BI
Pasar akan mencermati lelang SUN pada 18 Agustus 2026 yang berlangsung sehari sebelum keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 19 Agustus 2026. Nilai penawaran dalam lelang itu diperkirakan mencapai Rp60 triliun hingga Rp75 triliun.
Untuk obligasi acuan tenor 10 tahun, Yusuf memperkirakan yield yang dimenangkan berada pada kisaran 7,25 persen hingga 7,35 persen. Ia juga menilai tenor 5 hingga 10 tahun menarik karena carry masih baik, dengan risiko durasi yang lebih terkendali.
Target kenaikan penerimaan pajak sebesar 12,1 persen tetap menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan pasar. Jika dua syarat utama, yakni pelonggaran suku bunga global dan stabilitas rupiah, tidak terpenuhi, yield berpeluang bertahan lebih dekat ke 7 persen.






