Warga Palestina Merasa Dikepung, Permukiman Israel Meluas di Utara Tepi Barat

Warga Palestina di utara Tepi Barat melaporkan tekanan yang kian besar setelah permukiman, jalan, dan pangkalan militer Israel berkembang di sekitar tempat tinggal mereka. Dampaknya tidak hanya menyasar tanah pertanian, tetapi juga toko, mobilitas harian, dan rasa aman keluarga.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan atau OCHA mencatat rata-rata enam insiden yang melibatkan pemukim Israel setiap hari sepanjang 2026. Catatan itu mencakup pencurian, perusakan, pembakaran, pemukulan, hingga pembunuhan.

Ruang hidup yang semakin terbatas

Faij Rawajbi, pemilik toko hasil pertanian di Desa Deir Abu Deif, mengatakan warga merasa “dikepung dari segala arah”. Pernyataan itu muncul setelah tim keamanan bersenjata dari permukiman mulai memeriksa identitas warga di kawasan tersebut.

Tokonya sendiri dihancurkan di dekat jalan menuju permukiman. Pembongkaran itu menjadi salah satu perubahan yang dirasakan penduduk di sekitar Jenin ketika infrastruktur baru berkembang.

Mohammed, warga yang tidak mencantumkan nama belakangnya demi keamanan, mengatakan keluarganya kehilangan akses ke lahan kedua di seberang jalan baru. Sejumlah jalan pertanian juga ditutup dengan timbunan material oleh buldoser militer, sehingga jalur menuju Jenin ikut terputus.

Ia mengatakan anaknya baru-baru ini ditahan dan dipukuli tentara saat berjalan di ladang. Kehadiran pangkalan militer baru di pintu masuk Ganim juga disebut meningkatkan aktivitas militer di area tersebut.

Area A sebelumnya berada di bawah kendali Palestina berdasarkan pengaturan Kesepakatan Oslo. Area B berada di bawah kendali militer Israel, sementara urusan sipilnya dikelola Palestina.

Warga selama ini menganggap Area A dan Area B relatif aman dari aktivitas pemukiman. Namun, pangkalan baru dan perluasan infrastruktur mengubah anggapan tersebut.

Lokasi lama kembali dikembangkan

Tekanan di utara Tepi Barat berlangsung ketika pemerintah Israel mendorong pengembangan kembali lokasi-lokasi yang pernah dikosongkan pada 2005. Empat lokasi itu sebelumnya ditinggalkan dalam rencana pelepasan diri yang dijalankan mantan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon.

LokasiStatus pada 2005Kondisi saat ini
HomeshDikosongkanMenjadi sasaran pengembangan kembali
Sa-NurDikosongkanMenjadi sasaran pengembangan kembali
GanimDikosongkanMenjadi sasaran pengembangan kembali
KadimDikosongkanMenjadi sasaran pengembangan kembali

Rencana pelepasan diri tersebut awalnya dimaksudkan untuk membuka ruang Palestina yang lebih menyatu di Tepi Barat. Pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kini mendorong pengembangan kembali di kawasan-kawasan itu.

Pada Desember, pemerintah Israel menyetujui rencana melegalkan 17 permukiman tambahan di Tepi Barat bagian utara. Rencana tersebut juga bertujuan menghubungkan permukiman-permukiman yang ada.

Keluarga menjaga tanah sendiri

Amin Rahal, 31 tahun, bersama tiga saudaranya sempat menghentikan pekerjaan selama beberapa pekan untuk menjaga sisa lahan keluarga di sebuah bukit. Mereka bergantian memastikan setidaknya dua orang berada di lokasi setelah rumah prefabrikasi pemukim muncul sekitar 100 meter dari rumah mereka.

Menurut Rahal, kedatangan pemukim di dekat keluarganya diikuti pencurian ayam dan kerusakan pohon zaitun. Tanaman di halaman juga terdampak kendaraan segala medan, sementara ternak pemukim disebut memasuki pekarangan keluarga.

Pemukim dari Emek Dotan memasang tali melintasi tanah keluarga Rahal dan melarang mereka melewatinya. Di belakang batas itu terdapat peternakan ayam serta pohon zaitun milik keluarga yang sulit dijangkau karena kekhawatiran akan kekerasan.

“Kami takut mereka akan menyerang anak-anak, membakar salah satu rumah, menyerang kami pada malam hari, dan masuk ke rumah,” kata Rahal kepada AFP. Ia menyebut kejadian serupa pernah terjadi di desa-desa lain ketika pemukim datang.

Di luar Yerusalem Timur yang telah dianeksasi Israel, sekitar 500.000 pemukim Israel tinggal di Tepi Barat yang diduduki sejak 1967. Sekitar tiga juta warga Palestina juga tinggal di wilayah itu, dengan akses yang terus menyempit di tengah perluasan permukiman.

Baca Juga