Tahap Kedua Damai Gaza Tertahan, Hamas Minta Trump Dorong Israel Bertindak

Pelaksanaan tahap kedua rencana perdamaian Gaza masih tertahan oleh perbedaan tuntutan Israel dan Hamas. Di tengah kebuntuan itu, Hamas meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump menekan Israel agar melaksanakan kesepakatan yang telah dibuat.

Permintaan tersebut menyusul seruan Trump agar Israel menghentikan serangan ke Jalur Gaza. Hamas menilai penghentian serangan perlu menjadi pintu masuk untuk melanjutkan proses penyelesaian konflik.

Dua Posisi yang Berlawanan

Israel menginginkan Hamas dilucuti terlebih dahulu sebelum penarikan pasukan dilakukan lebih jauh dari wilayah Gaza. Syarat itu menjadi pembeda utama dengan posisi Hamas dalam perundingan tahap lanjutan.

Hamas menuntut penghentian serangan Israel didahulukan sebelum pembahasan langkah berikutnya dijalankan. Kelompok tersebut juga meminta penarikan pasukan Israel dan peningkatan bantuan kemanusiaan setelah serangan berhenti.

Perbedaan urutan itu membuat kesepakatan belum dapat diterapkan sepenuhnya. Kedua pihak masih harus menentukan tindakan awal yang bisa membuka jalan menuju tahap kedua.

AgendaIsi KesepakatanPersoalan Pelaksanaan
Penghentian konflikGencatan senjata antara Israel dan HamasMenjadi dasar seruan Trump
Pertukaran tahananSandera di Gaza ditukar dengan tahanan PalestinaMasuk kerangka kesepakatan
Bantuan kemanusiaanPeningkatan bantuan ke GazaMasih menjadi tuntutan Hamas
Penarikan pasukanPenarikan Israel secara bertahapMasih berbeda soal urutan

Respons Hamas atas Seruan Trump

Juru bicara Hamas Hazem Qassem mengatakan Hamas menyambut baik seruan Trump kepada Israel untuk menghentikan serangan. Pernyataan itu disampaikan Qassem pada Senin, 17 Agustus 2026.

“Hamas menyambut baik pernyataan Presiden AS Donald Trump, yang menyerukan Israel untuk menghentikan serangan terhadap Gaza. Hal ini menegaskan komitmen Presiden Trump terhadap gencatan senjata,” kata Qassem.

Menurut Qassem, komitmen terhadap gencatan senjata harus diwujudkan melalui tindakan diplomatik yang lebih konkret. Hamas berharap pemerintah Amerika Serikat tidak hanya menyerukan penghentian serangan, tetapi juga mendorong kepatuhan terhadap kesepakatan lanjutan.

“Hamas juga menyerukan Trump untuk menekan Israel dan mewajibkan melaksanakan kesepakatan yang telah dicapai terkait tahap kedua dari rencana tersebut,” ujar Qassem. Hamas menempatkan pelaksanaan tahap itu sebagai kebutuhan untuk membawa konflik menuju penyelesaian yang lebih luas.

Kerangka Kesepakatan yang Belum Rampung

Israel dan Hamas mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza pada 9 Oktober 2025. Mesir, Qatar, Amerika Serikat, dan Turki bertindak sebagai mediator dalam proses tersebut.

Kesepakatan itu kemudian difinalisasi dalam KTT Sharm el-Sheikh pada 13 Oktober 2025. VIVA.co.id melaporkan kerangkanya memuat penghentian konflik dan penanganan kebutuhan kemanusiaan di Gaza.

Namun, seluruh unsur dalam kesepakatan itu belum terlaksana. Seruan Trump kini mendapat perhatian karena tekanan Amerika Serikat dinilai Hamas dapat memengaruhi sikap Israel dalam perundingan.

Keberlanjutan proses tetap bergantung pada penyelesaian perbedaan mengenai pelucutan senjata, penghentian serangan, penarikan pasukan, dan bantuan kemanusiaan. Selama urutan langkah belum disepakati, tahap kedua rencana perdamaian Gaza belum dapat dijalankan secara penuh.

Baca Juga