Penguatan Wall Street belum mampu menahan tekanan yang membayangi IHSG. Indeks Harga Saham Gabungan ditutup turun 72,08 poin atau 1,13 persen menjadi 6.301,77 pada Kamis (13/8/2026).
Pasar domestik menghadapi sentimen yang berbeda dibandingkan Amerika Serikat. Rebalancing MSCI, aksi jual investor asing, pelemahan rupiah terhadap dolar AS, dan bursa Asia yang melemah menjadi faktor utama yang diperhatikan investor.
Kontras Pergerakan Bursa
Indeks utama Wall Street menguat pada perdagangan sebelumnya setelah data inflasi Amerika Serikat tercatat moderat. Kondisi itu menumbuhkan harapan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini.
| Indeks | Pergerakan | Faktor Utama |
|---|---|---|
| IHSG | Turun 1,13 persen | Rebalancing MSCI dan jual asing |
| DJIA | Naik 0,13 persen | Sentimen inflasi AS |
| S&P 500 | Naik 0,65 persen | Penguatan saham teknologi |
| Nasdaq | Naik 0,81 persen | Penguatan saham semikonduktor |
S&P 500 dan Nasdaq mendapat dukungan dari sektor teknologi serta semikonduktor. Optimisme terhadap investasi AI turut menguat setelah kabar rencana IPO Anthropic dan akuisisi Decart AI senilai US$6 miliar.
Micron, Marvell, dan Sandisk menjadi beberapa saham yang mendorong penguatan S&P 500 dan Nasdaq. Sebaliknya, pelemahan Cisco serta sektor perbankan dan industri membatasi kenaikan DJIA.
MSCI Membuat Investor Lebih Waspada
Di pasar Indonesia, perhatian investor tertuju pada perubahan komposisi indeks MSCI. GOTO dan CPIN keluar dari MSCI Global Standard, sedangkan sejumlah saham lain tidak lagi masuk dalam kategori Global Small Cap.
Perubahan tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai pergeseran aliran dana asing di pasar domestik. Pelaku pasar mencermati kemungkinan tekanan jual pada saham yang terdampak penyesuaian indeks global itu.
Rebalancing MSCI menjadi penting karena indeks tersebut digunakan sebagai salah satu acuan investor global. Ketika komposisi berubah, investor dapat menyesuaikan portofolionya terhadap saham yang masuk maupun keluar dari indeks.
Rupiah dan Bursa Asia Menambah Beban
Selain isu indeks, rupiah yang melemah terhadap dolar AS menambah sentimen negatif di bursa domestik. Pelemahan pasar saham Asia juga membuat ruang penguatan IHSG menjadi lebih terbatas.
FAC Sekuritas menilai kondisi pasar masih belum kondusif. Dalam riset yang dilansir pasardana.id pada Jumat (14/8), analis FAC Sekuritas melihat tekanan indeks dapat berlanjut seiring aksi jual investor asing.
“Menyikapi beragam kondisi tersebut, pada perdagangan hari ini, IHSG diperkirakan masih cenderung tertekan seiring berlanjutnya aksi jual investor asing di pasar saham domestik,” kata analis FAC Sekuritas. Pernyataan itu menegaskan bahwa faktor domestik masih menjadi penentu utama arah perdagangan.
Data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan memang memberi dorongan positif bagi pasar global. Namun, pasar Indonesia tetap harus menghadapi risiko lokal yang berpusat pada rebalancing MSCI, nilai tukar rupiah, dan arus jual asing.






