Meneliti Prokrastinasi Mahasiswa, Tri Tuntaskan S2 BK di Usia 72 Tahun

Di tengah mahasiswa yang baru memasuki dunia kuliah, Tri Prasetiyowati meneliti persoalan prokrastinasi akademik sebagai bagian dari tesis magisternya. Penelitian itu diselesaikan ketika ia menuntaskan S2 Bimbingan dan Konseling pada usia 72 tahun.

Tri menjadi wisudawan tertua dalam wisuda ke-121 Universitas Negeri Surabaya pada Rabu, 12 Agustus 2026. Kehadirannya di program magister mempertemukan pengalaman hidup puluhan tahun dengan persoalan akademik yang banyak dialami mahasiswa generasi baru.

Tesis Tri membahas pengaruh mekanisme coping, penyesuaian akademik, dan dukungan sosial terhadap prokrastinasi akademik pada mahasiswa tahun pertama. Kajian itu menyoroti masa transisi mahasiswa baru yang harus beradaptasi dengan tuntutan lingkungan perkuliahan.

Pengalaman berinteraksi dengan mahasiswa yang lebih muda ikut membentuk ketertarikannya terhadap topik tersebut. Dari lingkungan kampus, ia mendapat kesempatan melihat secara langsung cara pikir serta persoalan yang dihadapi generasi yang berbeda dengannya.

Memahami perubahan dalam keluarga

Keputusan kembali ke bangku kuliah tidak semata didorong keinginan menambah gelar. Tri ingin memahami perubahan cara berkomunikasi, mendidik, dan melihat dunia dari sudut pandang generasi muda.

Perbedaan itu dirasakannya dalam keluarga sebagai ibu dari dua anak. Saat tumbuh besar, Tri terbiasa menangkap arahan orang tua melalui isyarat, sedangkan anak-anaknya lebih terbuka menyampaikan pendapat serta pandangan sendiri.

Menurut laman Unesa yang dikutip Kompas.com, pendidikan menjadi jalan Tri untuk memahami perbedaan zaman. Ia memandang proses belajar sebagai cara menyesuaikan diri terhadap perubahan sosial yang terus berlangsung.

Mengulang materi dan memanfaatkan teknologi

Kuliah di usia lanjut menuntut Tri menemukan metode belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. Tantangan utama yang ia rasakan adalah materi yang telah dipahami lebih mudah terlupakan.

Ia mengandalkan buku kuliah untuk dibaca kembali dan merekam penjelasan dosen agar dapat diputar ulang. Tri juga menggunakan Google serta membuat singkatan untuk membantu mengingat bagian-bagian materi yang dipelajari.

“Tantangannya kalau sudah usia gini, dijelasin materi itu memang ingat tapi gampang hilang. Jadi saya harus punya bukunya dan penjelasan dari dosen saya rekam,” ujar Tri.

Kemudahan akses digital membuatnya tidak selalu harus mengunjungi perpustakaan untuk mencari bahan pembelajaran. Teknologi membantu Tri menelusuri informasi yang diperlukan selama menjalani pendidikan tinggi.

Keinginan lama yang diteruskan

Tri pernah berkuliah hingga semester empat ketika masih muda, tetapi pendidikan itu terhenti setelah ia menikah. Setelahnya, ia menjalani peran sebagai ibu dan mendampingi suaminya yang merupakan prajurit TNI Angkatan Laut.

Pada 2020, saat berusia 66 tahun, Tri memulai S1 Bimbingan dan Konseling di Universitas PGRI Adi Buana pada masa pandemi Covid-19. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada September 2024, lalu melanjutkan studi magister di Unesa.

Dukungan keluarga menjadi salah satu penopang Tri dalam menyelesaikan tahap pendidikan tersebut. Langkahnya menunjukkan bahwa ketertarikan memahami generasi baru dapat ditempuh melalui proses belajar yang berkelanjutan.

Baca Juga