Prospek Permintaan Dipangkas, Harga Minyak Dunia Jatuh saat Stok AS Naik

Revisi proyeksi konsumsi minyak global dan lonjakan cadangan di Amerika Serikat mendorong harga minyak dunia melemah tajam pada Kamis (13/8/2026). Dua faktor tersebut menekan Brent dan WTI hingga sama-sama turun lebih dari 2 persen pada penutupan perdagangan.

Pasar menghadapi kekhawatiran bahwa pertumbuhan kebutuhan minyak tidak sekuat perkiraan sebelumnya, sementara persediaan di AS justru meningkat besar. Kombinasi itu mengalihkan fokus investor dari risiko gangguan pasokan yang sempat muncul pada awal sesi.

Permintaan Minyak Menjadi Perhatian Pasar

Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau OPEC memangkas estimasi pertumbuhan permintaan minyak global pada 2026 menjadi 580.000 barel per hari. Penyesuaian tersebut menjadi salah satu sinyal penting bagi pasar mengenai prospek konsumsi minyak pada tahun depan.

Badan Energi Internasional juga menaikkan perkiraan penurunan konsumsi menjadi 1,6 juta barel per hari. Perkiraan itu dikaitkan dengan harga minyak yang tinggi dan krisis pasokan yang terdampak konflik AS-Israel dengan Iran.

Perubahan pandangan atas permintaan menjadi penting karena harga minyak sangat dipengaruhi keseimbangan antara konsumsi dan ketersediaan pasokan. Ketika proyeksi konsumsi memburuk, peningkatan stok dapat memperbesar tekanan terhadap harga.

Stok Minyak Mentah AS Bertambah Besar

Data Badan Informasi Energi AS atau EIA memperlihatkan persediaan minyak mentah komersial naik 17,4 juta barel menjadi 424,4 juta barel. Data itu mencakup pekan yang berakhir pada 7 Agustus.

Jumlah tersebut menjadi posisi tertinggi sejak 5 Juni dan kenaikan mingguan terbesar sejak awal 2023. EIA mengaitkan lonjakan cadangan itu dengan penurunan volume ekspor minyak.

Dalam pernyataannya, EIA menyebut persediaan minyak mentah naik 17,4 juta barel menjadi 424,4 juta barel pada pekan yang berakhir 7 Agustus. Kenaikan stok AS kemudian menjadi fokus utama perdagangan energi pada sesi tersebut.

Acuan MinyakPenutupanPelemahan
BrentUS$87,07 per barelUS$1,91 atau 2,15 persen
WTIUS$81,25 per barelUS$2,02 atau 2,4 persen

Brent dan WTI Berakhir di Zona Merah

Minyak Brent ditutup pada US$87,07 per barel setelah turun US$1,91 atau 2,15 persen. WTI berakhir lebih rendah di US$81,25 per barel setelah terkoreksi US$2,02 atau 2,4 persen.

Pelemahan itu tidak hanya terjadi menjelang akhir perdagangan. Pada awal sesi, penurunan harga kedua acuan utama bahkan sempat mencapai sekitar 3,5 persen.

Sentimen awal pasar turut dipengaruhi kabar serangan drone Houthi terhadap kilang Saudi Aramco di Jazan. Akan tetapi, pasar tetap bergerak melemah ketika perhatian bergeser ke kenaikan cadangan AS dan penurunan prospek konsumsi minyak dunia.

Data stok dan proyeksi permintaan memberikan tekanan dari dua arah yang berbeda. Persediaan yang meningkat menunjukkan ketersediaan minyak bertambah, sedangkan proyeksi konsumsi yang dipangkas membebani harapan terhadap penyerapan minyak di pasar global.

Situasi tersebut membuat isu risiko pasokan belum cukup untuk mengangkat harga pada penutupan sesi. Brent dan WTI akhirnya mencatat penurunan tajam seiring pasar menilai kembali keseimbangan pasokan dan permintaan minyak.

Baca Juga