Pasien pertama penerima CoreHeart 6 di RSCM telah dilepas dari ventilator dalam sekitar 24 jam setelah operasi. Pasien juga mulai menjalani latihan mobilisasi, meski pemantauan intensif masih terus dilakukan selama fase pascaoperasi.
Perkembangan itu menyertai pencapaian penting RSCM sebagai rumah sakit pertama di Asia yang menanamkan perangkat tersebut. CoreHeart 6 merupakan Left Ventricular Assist Device atau LVAD yang disebut sebagai perangkat bantu jantung paling kecil di dunia.
Perangkat ini ditujukan untuk mendukung kerja jantung pada pasien gagal jantung stadium lanjut. Kehadirannya memberi pilihan terapi di tengah sulitnya memperoleh donor jantung dan keterbatasan tenaga ahli transplantasi.
Fase Kritis Belum Berakhir
Pelepasan ventilator menjadi salah satu indikator penting dalam pemulihan awal pasien. Namun, kondisi pascaoperasi masih menyimpan risiko yang memerlukan pengawasan berkelanjutan dari tim medis.
Infeksi, perdarahan, dan gangguan fungsi organ termasuk risiko yang diwaspadai setelah tindakan implantasi. Karena itu, perkembangan pasien tidak hanya dinilai dari kemampuan bernapas tanpa ventilator, tetapi juga dari stabilitas kondisi organ secara keseluruhan.
| Periode | Perkembangan | Risiko yang Dipantau |
|---|---|---|
| Sekitar 24 jam setelah operasi | Ventilator dilepas, latihan mobilisasi dimulai | Pemulihan awal |
| Masa pascaoperasi | Kondisi dipantau secara ketat | Infeksi, perdarahan, gangguan organ |
Kepala Departemen Kardiovaskular RSCM Birry Karim mengatakan kondisi pasien sejauh ini terus membaik. Ia menilai keberhasilan melewati fase kritis menjadi pencapaian penting dalam perjalanan pengembangan layanan gagal jantung lanjut.
“Sejauh ini kondisi pasien terus membaik. Begitu pasien berhasil melewati fase kritis dan dapat dilepas dari ventilator, kami merasa sangat lega,” kata Birry.
Bukan Sekadar Pemasangan Alat
Penanganan pasien dengan LVAD membutuhkan keterlibatan banyak disiplin ilmu. Dokter jantung, dokter bedah jantung, dokter anestesi, dokter intensif, perawat, serta tenaga kesehatan lain bekerja dalam satu tim.
RSCM sendiri telah membangun layanan khusus heart failure sejak 2017. Layanan tersebut berkembang menjadi sistem terpadu untuk menghadapi kebutuhan pasien gagal jantung dengan kondisi yang kompleks.
Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan Azhar Jaya menyebut LVAD sebagai terobosan bagi pasien gagal jantung kronis stadium akhir. Menurutnya, teknologi ini berpotensi membantu memperpanjang usia dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Azhar juga menilai keberhasilan tindakan di RSCM memperlihatkan kemampuan tenaga medis nasional dalam menguasai teknologi kesehatan berkelas dunia. Pengembangan kompetensi itu diharapkan dapat diperluas melalui transfer pengetahuan kepada lebih banyak tenaga kesehatan.
Peluang Menjadi Pusat Pelatihan
Founder dan Chairman Borderless Healthcare Group sekaligus pendiri HeartSpan.ai, Dr Wei Siang Yu, menilai layanan LVAD harus ditopang ekosistem yang berkelanjutan. Pelatihan dokter dan pertukaran pengetahuan menjadi bagian penting agar teknologi tersebut dapat memberi manfaat jangka panjang.
Kolaborasi HeartSpan.ai, RSCM, dan mitra internasional mencakup donasi perangkat, pelatihan tenaga medis, serta pengembangan layanan berbasis AI. Pengembangan LVAD tanpa kabel juga tengah dilakukan untuk menekan risiko infeksi yang terkait kabel eksternal.
Teknologi CoreHeart 6 telah digunakan pada lebih dari 1.500 pasien di Tiongkok. Pada sebagian kasus, perangkat itu disebut dapat dilepas dalam dua hingga tiga tahun saat fungsi jantung pasien membaik.
Direktur Utama RSCM Supriyanto Dharmoredjo berharap RSCM dapat berkembang sebagai pusat pelatihan teknologi LVAD di Asia. Program ini diarahkan untuk memperluas terapi, mendorong inovasi, dan memperkuat kapasitas sumber daya manusia kesehatan Indonesia.






