Nyeri akibat usus buntu akut tidak selalu menetap dalam waktu yang sama pada setiap pasien. Setelah memperoleh penanganan, keluhan dapat menghilang dalam dua hingga tiga minggu atau berubah dalam beberapa bulan.
Penjelasan itu disampaikan Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, Prof Ari Fahrial Syam, dalam menanggapi perbincangan mengenai kondisi Fahira Almira. Ia menilai perubahan kondisi pasien perlu menjadi pertimbangan sebelum aktivitas seperti berjalan atau naik pesawat dikaitkan dengan fase akut.
Pada kondisi akut, nyeri biasanya muncul sangat kuat di perut kanan bawah. Rasa sakit tersebut dapat membatasi kemampuan pasien untuk berjalan dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Karena itu, Prof Ari menilai tidak tepat jika kemampuan bepergian langsung dianggap sebagai gambaran pasien yang sedang mengalami kondisi akut. Kondisi ketika seseorang berangkat ke rumah sakit lain dapat berbeda dengan keadaan saat dugaan awal muncul.
“Jadi memang kurang pas juga kalau dibilang pasien bisa naik pesawat, kemudian bisa berobat ke rumah sakit di sana, jalan kaki, segala macam, dinyatakan sebagai kondisi yang akut,” ujar Prof Ari. Ia menekankan bahwa ada kemungkinan pasien telah membaik ketika menjalani aktivitas tersebut.
Pengobatan dapat mengubah keluhan
Menurut Prof Ari, sebagian masalah usus buntu dapat ditangani tanpa operasi. Gejala dapat mereda setelah pengobatan, sehingga kondisi pasien saat kontrol atau pemeriksaan berikutnya tidak selalu sama dengan kondisi awal.
Perubahan itu tidak harus menunggu sampai tiga bulan. Bila pasien membaik, keluhan akut dapat hilang dalam periode dua hingga tiga minggu.
Prof Ari juga menjelaskan kemungkinan seorang pasien pada awalnya diduga mengalami apendiks akut, lalu kondisinya membaik setelah ditangani. Situasi tiga bulan sesudah pemeriksaan awal dapat berbeda secara nyata dari fase ketika nyeri akut dirasakan.
“Kalau waktunya sudah 3 bulan, ada kemungkinan bahwa ketika di awal memang diduga apendiks akut, tapi setelah diobati sudah membaik dan pasien 3 bulan begitu bisa berubah,” kata Prof Ari kepada health.detik.com. Pernyataan itu menggarisbawahi pentingnya melihat urutan waktu dalam menilai kondisi kesehatan seseorang.
Pembahasan mengenai hal tersebut mencuat setelah Fahira Almira membagikan pengalamannya menjalani pemeriksaan di Indonesia dan Penang, Malaysia. Ia menyebut memperoleh keterangan yang berbeda dari tenaga medis di dua lokasi pemeriksaan tersebut.
| Lokasi Pemeriksaan | Keterangan yang Disampaikan Fahira |
|---|---|
| Rumah sakit di Indonesia | Didiagnosis mengalami usus buntu |
| Rumah sakit di Penang | Dinyatakan sebaliknya oleh tenaga medis |
Perbedaan hasil pemeriksaan itu kemudian ramai diperbincangkan karena Fahira disebut masih dapat bepergian ke luar negeri. Aktivitas tersebut perlu dipahami bersama kemungkinan adanya jeda antara diagnosis awal dan pemeriksaan selanjutnya.
Dalam konteks ini, kemampuan naik pesawat tidak dengan sendirinya meniadakan kemungkinan keluhan pada masa sebelumnya. Sebaliknya, aktivitas itu dapat menunjukkan bahwa pasien sudah tidak berada dalam keadaan akut ketika melakukan perjalanan.
Prof Ari mengingatkan bahwa masyarakat perlu berhati-hati dalam membuat pernyataan mengenai kondisi medis. Informasi kesehatan yang tidak dibaca secara utuh berisiko menimbulkan kesimpulan keliru dan memperbesar kegaduhan.
Penilaian terhadap dugaan usus buntu akut perlu memperhatikan kondisi saat pemeriksaan dilakukan, respons terhadap pengobatan, serta perubahan gejala dari waktu ke waktu. Unsur-unsur tersebut menjadi pembeda penting dalam memahami cerita yang dialami Fahira Almira.






