Bukan Sekadar Menua, Mudah Lelah pada Pria Dapat Menjadi Sinyal Gangguan Metabolisme

Mudah lelah pada pria dapat menjadi keluhan yang mengganggu, terutama ketika stamina terus menurun dan aktivitas sehari-hari mulai terdampak. Kondisi itu tidak selalu berarti tubuh hanya sedang mengalami proses penuaan.

Keluhan yang menetap dapat berkaitan dengan gangguan metabolisme maupun kekurangan testosteron. Karena penyebabnya dapat beragam, pemeriksaan medis diperlukan untuk melihat kondisi kesehatan secara lebih utuh.

Obesitas dan sindrom metabolik termasuk kondisi yang banyak ditemukan pada pria dengan kekurangan testosteron dalam data European Male Ageing Study atau EMAS. Kaitan tersebut membuat keluhan lelah berkepanjangan perlu dinilai lebih luas daripada sekadar persoalan stamina.

Gangguan metabolisme dapat muncul bersamaan dengan perubahan hormonal. Penanganan karena itu perlu didasarkan pada penyebab yang mendasari gejala, bukan hanya pada usia atau satu keluhan tertentu.

Hubungan Keluhan dan Kesehatan Hormonal

Spesialis penyakit dalam subspesialis endokrinologi, metabolik, dan diabetes dr Marshell Tendean menyampaikan bahwa usia memang dapat memicu perubahan pada tubuh, termasuk perubahan hormon. Namun, penurunan stamina yang berlangsung terus tidak seharusnya langsung dianggap wajar.

Kekurangan testosteron dapat berkaitan dengan usia dan fungsi seksual, tetapi dampaknya tidak berhenti pada dua hal tersebut. Kondisi tersebut juga terkait dengan berbagai aspek kesehatan yang perlu dievaluasi secara medis.

“Kekurangan testosteron tak sekadar persoalan usia atau fungsi seksual, namun dapat berkaitan dengan berbagai aspek kesehatan,” ujar dr Marshell seperti dikutip Beritasatu.com. Evaluasi diperlukan agar kondisi yang dialami seseorang tidak dinilai hanya sebagai bagian dari penuaan.

Rasa lelah yang terus muncul dapat disertai gangguan fungsi seksual dan stamina yang berkurang. Bila kombinasi ini mulai memengaruhi kualitas hidup, seluruh keluhan tersebut perlu disampaikan saat berkonsultasi dengan dokter.

Prevalensi Bertambah Seiring Usia

EMAS membahas hubungan antara kelelahan menetap pada pria berusia di atas 50 tahun dengan kekurangan testosteron. Dalam istilah medis, kekurangan testosteron yang muncul seiring usia disebut late-onset hypogonadism atau LOH.

Data klinis tersebut menunjukkan bahwa prevalensi kekurangan testosteron meningkat pada kelompok usia yang lebih tua. Perbandingan angkanya terlihat pada dua kelompok usia berikut.

Kelompok Usia PriaPrevalensi Kekurangan Testosteron
40–49 tahun0,1%
70–79 tahun5,1%

Prevalensi sebesar 0,1% tercatat pada pria berusia 40–49 tahun, sedangkan kelompok 70–79 tahun mencapai 5,1%. Angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan hormonal dapat menjadi lebih relevan pada usia lanjut.

Meski demikian, keluhan lelah bukan penanda tunggal kekurangan testosteron. Tidak setiap pria yang mengalami kelelahan atau stamina menurun otomatis memiliki kondisi tersebut.

Pemeriksaan Tidak Hanya Berfokus pada Usia

Dokter dapat mengevaluasi penyebab keluhan melalui penilaian yang sesuai dengan kondisi individu. Langkah ini membantu membedakan perubahan alami akibat usia dari gangguan kesehatan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Fokus pemeriksaan tidak hanya tertuju pada fungsi seksual atau angka usia. Obesitas, sindrom metabolik, perubahan hormonal, dan keluhan yang dirasakan perlu dipertimbangkan dalam gambaran kesehatan yang sama.

Evaluasi menjadi penting ketika kelelahan berlangsung menetap dan kualitas hidup mulai menurun. Dengan mengetahui penyebabnya, langkah penanganan dapat disesuaikan tanpa membuat asumsi berdasarkan usia semata.

Pria dengan keluhan mudah lelah terus-menerus, stamina menurun, atau gangguan fungsi seksual dapat mempertimbangkan konsultasi medis. Pemeriksaan memberi ruang untuk menilai hubungan antara gejala tersebut dan kondisi kesehatan lain yang relevan.

Baca Juga