Mobilitas Mahasiswa Menambah Risiko, Hepatitis A Bisa Lebih Berat pada Dewasa

Mobilitas tinggi membuat mahasiswa perlu lebih cermat menjaga kebersihan tangan, makanan, dan air yang dikonsumsi. Perhatian ini penting karena hepatitis A pada orang dewasa cenderung menimbulkan gejala yang lebih berat dibandingkan pada anak-anak.

Aktivitas berpindah dari satu tempat ke tempat lain, makan dari beragam penjual, serta penggunaan fasilitas bersama dapat memperbesar kebutuhan akan pencegahan. Risiko tidak hanya berkaitan dengan pilihan makanan, tetapi juga dengan praktik sanitasi sehari-hari.

Makanan dan Air Menjadi Jalur Penularan

Hepatitis A adalah infeksi yang menyerang hati dan umumnya ditularkan melalui makanan atau air yang telah terkontaminasi virus. Karena itu, sanitasi yang kurang baik dapat menjadi faktor yang meningkatkan risiko penularan.

Kebersihan tangan perlu diperhatikan sebelum makan maupun saat beraktivitas di ruang bersama. Keamanan pangan dan air minum juga menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko infeksi.

Lingkungan yang memiliki kebiasaan makan dan minum bersama memerlukan perhatian tambahan. Penularan dapat terjadi ketika standar kebersihan tangan atau keamanan konsumsi tidak dipenuhi dengan baik.

Edukasi Menjangkau Sivitas Akademika

PT Etana Biotechnologies Indonesia atau Etana menggelar rangkaian edukasi serta vaksinasi hepatitis A di sejumlah institusi pendidikan kesehatan dan rumah sakit. Program ini dikaitkan dengan peringatan Hari Hepatitis Sedunia 2026 bertema global “Let’s Break It Down”.

Salah satu puncak kegiatan berlangsung di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada. Seminar dan vaksinasi tersebut memberikan 375 dosis kepada dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.

Jumlah peserta yang telah menerima vaksinasi mencapai 570 orang hingga pelaksanaan kegiatan di FK-KMK UGM. Rangkaian program tersebut masih berlanjut setelah kegiatan di kampus itu.

Suara.com melaporkan kampus dipandang sebagai ruang yang penting untuk meningkatkan pemahaman mengenai pencegahan hepatitis. Kelompok mahasiswa dinilai relevan dijangkau karena aktivitas sosial dan mobilitas mereka tergolong tinggi.

Vaksinasi dan Peran Banyak Pihak

Director Anti-Infectious and Vaccine Business Unit Etana, Indra Lamora, menilai perlindungan terhadap hepatitis A tidak dapat hanya bertumpu pada fasilitas kesehatan. Edukasi dan vaksinasi, menurutnya, memerlukan keterlibatan berbagai unsur masyarakat.

“Kebutuhan perlindungan terhadap hepatitis A memang nyata, dan kami percaya edukasi serta vaksinasi tidak bisa dikerjakan sendirian,” ujar Indra. Etana membuka peluang kolaborasi dengan rumah sakit, perguruan tinggi, organisasi profesi, komunitas olahraga, serta pemerintah daerah.

Indra menyatakan vaksinasi merupakan bagian dari komitmen untuk memperluas akses masyarakat terhadap vaksin. Langkah tersebut juga disebut sejalan dengan dukungan terhadap penguatan ketahanan kesehatan dan kemandirian industri farmasi dalam negeri.

Peran Kampus Tidak Berhenti pada Pembelajaran

Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Alumni, dan Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Dr. dr. Sudadi, SpAn-TI, Subsp.N.An(K), Subsp.An.R(K), menilai kampus dapat berperan dalam membangun kesadaran kesehatan generasi muda. Ia menempatkan edukasi sebagai bentuk percontohan untuk mendorong pencegahan yang lebih luas.

“Hepatitis masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu ditangani di Indonesia, dan kampus dapat berperan lebih dari sekadar tempat belajar,” kata Sudadi. Ia menambahkan bahwa vaksin dapat menjadi investasi jangka panjang untuk perlindungan generasi selanjutnya.

Pencegahan hepatitis A pada akhirnya tetap bertumpu pada gabungan perilaku bersih, keamanan pangan, edukasi, dan vaksinasi. Langkah-langkah tersebut relevan bagi mahasiswa dan masyarakat lain yang banyak beraktivitas di luar rumah.

Baca Juga