Kenaikan muka laut hingga 0,94 meter di Maurole tercatat setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026. Di Bulukumba, alat pemantau BMKG merekam kenaikan muka laut sebesar 0,54 meter.
Data itu menjadi alasan masyarakat tetap diminta menjauhi pantai, muara sungai, dan tepian sungai setelah guncangan. Peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan BMKG kemudian diakhiri pada pukul 07.30 WIB.
Gempa tersebut tidak dipicu zona megathrust. BMKG menyatakan sumbernya adalah Flores Back Arc Thrust, atau Sesar Naik Flores, yang aktif di bawah laut sepanjang kawasan Bali dan Nusa Tenggara.
Susulan Gempa dan Risiko di Pesisir
Hingga pukul 07.00 WIB, BMKG mencatat 54 gempa susulan setelah gempa utama. Warga diminta tetap berhati-hati walaupun kondisi yang dipantau di sejumlah lokasi tidak dinilai berbahaya.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang Arief Tyastama mengingatkan warga agar tidak mendekati kawasan pesisir. Perubahan muka laut setelah gempa bawah laut dapat menjadi risiko tambahan bagi penduduk di sekitar pantai dan aliran sungai yang terhubung ke laut.
Bukan Patahan Biasa
Flores Back Arc Thrust merupakan sistem patahan naik di dasar laut yang panjangnya sekitar 800 kilometer. Jalurnya membentang dari utara Pulau Bali dan Laut Utara Lombok sampai bagian utara Pulau Flores.
Tekanan dari tumbukan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia membentuk sistem tersebut di bawah busur Bali dan Nusa Tenggara. Gerakan naik pada bidang patahan dapat menghasilkan gempa dangkal ketika energi yang terkumpul dilepaskan.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menyebut analisis lokasi episenter serta kedalaman hiposenter menunjukkan aktivitas Flores Back Arc Thrust. “Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault),” ujarnya dalam rilis resmi BMKG.
Segmen yang Terus Bergerak
Sesar Naik Flores terdiri atas beberapa segmen, bukan satu jalur patahan tunggal. Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia mencantumkan segmen Bali, Lombok-Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Tengah, dan Wetar.
| Segmen | Panjang | Laju Pergeseran | Potensi Magnitudo Maksimum |
|---|---|---|---|
| Bali | 84 km | 6,95 mm per tahun | 7,4 |
| Lombok-Sumbawa | 310 km | 9,9 mm per tahun | 8,0 |
| Flores Barat dan Tengah | – | hingga 11,6 mm per tahun | – |
Flores Barat dan Flores Tengah mencatat laju pergeseran hingga 11,6 milimeter per tahun. Angka itu melampaui laju pergeseran yang dicatat pada segmen Bali maupun Lombok-Sumbawa.
Penelitian Institut Teknologi Sepuluh Nopember berbasis GPS observasi 2019-2023 juga memperlihatkan deformasi kerak di Flores. Pergeseran horizontal dominan mengarah ke timur laut dengan kecepatan sekitar 20 sampai 57 milimeter per tahun.
Penelitian itu mencatat penurunan vertikal terbesar hingga minus 62 milimeter per tahun. Regangan kompresi 29,3 sampai 55,7 nstrain per tahun menandakan energi tektonik masih terakumulasi di kawasan tersebut.
Sejarah Menunjukkan Dampak Besar
Sistem patahan ini disebut menyumbang sekitar 90 persen gempa di Kepulauan Nusa Tenggara. Rekam jejaknya memperlihatkan bahwa gempa kuat dapat diikuti tsunami dan kerusakan luas pada permukiman.
| Peristiwa | Magnitudo | Dampak Tercatat |
|---|---|---|
| Bali Utara, 22 November 1815 | 7,0 | Tsunami dan sekitar 10.000 korban jiwa |
| Flores, 12 Desember 1992 | 7,8 | Tsunami hingga 50 meter dan lebih dari 2.500 korban jiwa |
| Lombok, Juli-Agustus 2018 | – | Rangkaian gempa dengan lebih dari 500 korban jiwa |
Pada gempa Flores 1992, tsunami menyapu pesisir Maumere dan Pulau Babi setelah gempa berkekuatan 7,8. Mitigasi pesisir dan pembangunan tahan gempa tetap menjadi kebutuhan utama karena reruntuhan bangunan kerap menjadi penyebab banyak korban saat gempa besar.






