Di tengah hujan deras, suhu yang dapat melampaui 40 derajat Celsius, dan badai topan tahunan, lukisan merah Huashan tetap melekat pada tebing batu kapur. Penelitian terbaru mengaitkan ketahanan itu dengan teknik kuno yang memadukan kapur, kalsium fosfat, tanah liat, dan darah manusia.
Keberadaan protein serum manusia pada fragmen cat memberi petunjuk penting mengenai bahan pengikat yang dipakai. Temuan tersebut menunjukkan para perajin tidak sekadar mengoleskan pigmen merah langsung ke dinding tebing.
Cuaca Guangxi Menguji Ketahanan Lukisan
Kawasan Huashan berada di Guangxi, China selatan, tidak jauh dari perbatasan Vietnam. Daerah ini memiliki iklim monsun tropis yang panas dan lembap.
Musim panas membawa hujan deras ke wilayah tersebut. Kawasan itu juga mengalami dua hingga tiga badai topan setiap tahun, sehingga permukaan tebing terus menghadapi paparan air dan angin.
Kondisi seperti itu umumnya tidak mendukung kelestarian pigmen di ruang terbuka. Namun, banyak warna merah pada tebing setinggi puluhan meter masih dapat bertahan hingga sekarang.
Campuran Cat Dibuat dalam Dua Tahap
Hasil penelitian menunjukkan kemungkinan penggunaan dua lapisan yang berbeda. Tahap pertama berupa adukan kapur tohor, kalsium fosfat, dan darah untuk menyiapkan permukaan batu.
Setelah lapisan dasar terbentuk, perajin menambahkan pigmen merah dari tanah liat lokal kaya nano-hematit. Susunan ini menciptakan perbedaan fungsi antara bahan pengikat dan bahan pembentuk warna.
| Komponen | Posisi dalam Proses | Peran yang Diduga |
|---|---|---|
| Kapur tohor, kalsium fosfat, darah | Lapisan dasar | Membentuk pengikat pada tebing |
| Tanah liat kaya nano-hematit | Lapisan atas | Menghasilkan pigmen merah |
Kapur dapat bereaksi dengan karbon dioksida di udara dan membentuk kalsium karbonat yang kuat. Struktur tersebut diduga menjadi alasan utama lapisan dasar mampu menghadapi pelapukan dalam waktu sangat panjang.
Protein darah juga membantu membentuk struktur mineral yang padat. Dengan cara itu, partikel nano-hematit dapat terkunci lebih baik pada permukaan batu kapur.
Serpihan Cat Menjadi Petunjuk Utama
Penelitian dilakukan pada fragmen material yang telah jatuh dari tiga situs Huashan. Pengambilan sampel semacam ini menghindari kerusakan pada lukisan asli yang masih menempel di tebing.
Para ilmuwan menggunakan spektroskopi Raman, mikroskopi elektron, analisis inframerah, dan proteomik. Menurut laporan Suara.com, pemeriksaan kimia juga menemukan kandungan kalsium fosfat dalam campuran cat kuno tersebut.
Analisis proteomik kemudian mengidentifikasi protein serum manusia. Hasil itu mendukung dugaan bahwa darah manusia menjadi bagian dari mortar atau adukan pengikat pigmen.
Ada hipotesis bahwa darah tersebut mungkin berasal dari perempuan yang baru melahirkan. Dugaan ini dikaitkan dengan posisi kesuburan perempuan dalam tradisi masyarakat Luoyue, tetapi belum dapat dipastikan sebagai fakta asal bahan tersebut.
Jejak Budaya yang Membentang di Zuojiang
Seni cadas Huashan membentang sekitar 260 kilometer di sepanjang Sungai Zuojiang. Lebih dari 80 lokasi menyimpan gambar merah berupa manusia, hewan, perahu, senjata, dan alat musik tradisional.
Lukisan itu diperkirakan berasal dari periode abad kelima Sebelum Masehi hingga abad kedua Masehi. Masyarakat Luoyue diyakini luas sebagai pembuatnya dan dikenal dalam catatan sejarah sebagai masyarakat matrilineal di kawasan Sungai Zuojiang.
UNESCO mengakui kawasan ini sebagai Situs Warisan Dunia sejak 2016. Studi dalam Journal of Archaeological Science memperluas pemahaman mengenai kemampuan masyarakat kuno mengolah mineral dan bahan organik untuk kebutuhan teknis sekaligus ritual.






