Julita Rita Lestari dari Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, menorehkan catatan penting setelah terpilih sebagai anggota Paskibraka Nasional. Keberhasilannya berarti daerah tersebut kembali mengirim wakil ke tingkat pusat setelah 15 tahun.
Julita menjadi satu dari 76 putra-putri terbaik dari berbagai wilayah Indonesia yang telah dikukuhkan. Seluruh anggota dijadwalkan bertugas dalam Upacara 17 Agustus 2026 di Istana Negara.
Terpilihnya Julita tidak hanya menjadi capaian pribadi, tetapi juga membawa kebanggaan bagi daerah asalnya. Ia menyebut kesempatan itu sebagai hasil dari proses seleksi yang akhirnya membawanya ke tingkat nasional.
“Saya juga bangga, kenapa? Karena akhirnya setelah 15 tahun Kabupaten Kutai Kartanegara tidak mengirimkan untuk ke tingkat pusat, akhirnya setelah dari 26 ini saya bisa terpilih, puji Tuhan sekali,” ungkap Julita.
Empat Kisah dari Daerah Menuju Formasi Nasional
Setiap anggota yang mencapai tingkat pusat melewati perjalanan dengan tantangan berbeda. Ada yang menghadapi seleksi berlapis, ada pula yang harus melawan rasa kurang percaya diri sebelum berhasil dikukuhkan.
| Nama | Asal | Tantangan atau Catatan |
|---|---|---|
| Julita Rita Lestari | Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur | Daerahnya kembali mengirim wakil ke pusat setelah 15 tahun |
| Angelica Theona Putri | Jawa Timur | Melawan rasa minder saat melihat peserta lain |
| Gladys Manuella Aibekob | Papua Tengah | Menjaga pola makan dan kesiapan perlengkapan |
| Muhammad Furqoen Hakim | Kepulauan Bangka Belitung | Menjalani seleksi dari sekolah hingga verifikasi pusat |
Angelica Theona Putri dari Jawa Timur mengungkapkan bahwa persiapan menuju formasi nasional turut menguji keteguhan mental. Ia sempat merasa tidak yakin setelah membandingkan dirinya dengan peserta lain yang dianggap lebih baik.
Perasaan minder itu bahkan membuat Angelica berpikir tidak mampu menyelesaikan proses seleksi. Akan tetapi, ia kemudian berhasil menepis keraguan tersebut dan menjadi salah satu anggota yang dikukuhkan.
“Saya sendiri kurang percaya diri, sudah minder duluan melihat teman yang lebih baik dari saya. Saya sempat berpikir pasti tidak bisa. Ternyata, saya bisa melawan ketidakpercayaan diri itu dan berhasil,” kata Angelica.
Gladys Manuella Aibekob dari Papua Tengah juga menghadapi keraguan pada awal perjuangannya. Ia tetap berusaha menghilangkan perasaan itu sambil mempersiapkan diri untuk tugas yang akan dijalankan.
Gladys menjaga pola makan agar kondisi kesehatannya tetap baik selama masa persiapan. Ia juga menyiapkan perlengkapan agar dapat tampil rapi ketika menjalankan tugas kenegaraan.
“Awalnya saya ragu, namun saya terus berusaha dan mencoba untuk hilangkan rasa ragu itu,” ujar Gladys. Ia menambahkan, “Saya mulai jaga makan, Kak, supaya kesehatan saya tetap terjaga. Terus saya menyiapkan perlengkapan-perlengkapan saya agar tampil rapi dan baik.”
Jalur Seleksi yang Berjenjang
Di balik pencapaian tersebut, peserta Paskibraka Nasional harus melewati tahapan seleksi yang panjang. Seleksi dimulai dari sekolah, berlanjut ke tingkat kabupaten atau kota dan provinsi, lalu ditutup dengan verifikasi tingkat pusat.
Muhammad Furqoen Hakim, anggota asal Kepulauan Bangka Belitung, menjelaskan bahwa setiap tahapan memiliki peran penting dalam perjalanan peserta. Proses itu membuat persaingan semakin ketat sebelum peserta dapat mencapai formasi nasional.
“Prosesnya banyak banget, Kak. Yang pertama itu dari proses seleksi sekolah, seleksi kabupaten, provinsi, dan juga verifikasi tingkat pusat kemarin,” ujar Furqoen.
Pengukuhan 76 anggota dilaksanakan pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Detikcom melaporkan mereka berasal dari berbagai daerah dan telah resmi dikukuhkan untuk menjalankan tugas di Istana Negara.
Penugasan pada upacara kemerdekaan menjadi titik akhir dari seleksi, latihan, dan persiapan yang mereka jalani. Bagi Julita, kesempatan itu sekaligus menghadirkan kembali nama Kutai Kartanegara dalam perwakilan tingkat pusat.






