IHSG memasuki perdagangan Jumat, 14 Agustus 2026, setelah terkoreksi 1,13 persen pada sesi sebelumnya. Indeks ditutup di level 6.301 pada Kamis, sehingga area 6.130 kini menjadi batas teknikal yang penting diperhatikan pasar.
Tekanan yang terjadi tidak hanya berasal dari perdagangan saham domestik. Kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun hingga 4,683 persen juga menjadi latar global yang dapat menjaga kehati-hatian investor.
Penurunan Sektor Barang Baku Menekan Indeks
Sektor barang baku menjadi kelompok dengan penurunan paling dalam pada perdagangan Kamis. Sektor tersebut merosot 2,93 persen dan ikut mengantarkan IHSG turun 72,08 poin.
Pelemahan sektoral ini membuat arah pergerakan indeks pada Jumat menjadi penting dicermati. Pasar akan melihat apakah tekanan jual masih berlanjut ketika IHSG bergerak mendekati area support.
IHSG ditutup pada level 6.301 setelah mengalami koreksi 72,08 poin. Posisi itu menempatkan indeks di bawah resistance 6.325 yang digunakan sebagai batas atas proyeksi teknikal harian.
| Komponen Pasar | Posisi | Arti bagi Perdagangan |
|---|---|---|
| IHSG pada Kamis | 6.301 | Turun 72,08 poin atau 1,13 persen |
| Support teknikal | 6.130 | Area batas bawah yang dipantau |
| Resistance teknikal | 6.325 | Area batas atas proyeksi |
| Sektor barang baku | -2,93 persen | Penurunan sektor terdalam |
Rentang 6.130 hingga 6.325
Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi bergerak melemah secara terbatas. Sekuritas itu menetapkan rentang support dan resistance pada 6.130 hingga 6.325.
“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 6.130-6.325,” tulis Pilarmas Investindo Sekuritas. Rentang tersebut menjadi acuan untuk menilai respons indeks terhadap tekanan yang sedang berlangsung.
Area 6.130 menjadi sorotan karena berada di batas bawah proyeksi tersebut. Sementara itu, level 6.325 akan menjadi batas atas yang diperhatikan dalam pergerakan indeks selama perdagangan harian.
Pasar Global Menambah Kehati-hatian
Yield obligasi AS tenor 10 tahun meningkat setelah lelang obligasi senilai US$42 miliar. Yield tersebut mencapai 4,683 persen, menandakan tekanan di pasar surat utang masih perlu diperhatikan.
Pilarmas memproyeksikan Bank Sentral AS mempertahankan suku bunga pada September karena data inflasi stabil. Meski demikian, penurunan yield dalam jangka pendek dinilai belum mudah terjadi.
“Apakah imbal hasil obligasi Amerika bisa kembali mengalami penurunan? Untuk jangka pendek, rasanya sulit pemirsa. Karena defisit yang masih besar, perang, serta inflasi yang masih berada di atas target The Fed,” ujar Pilarmas Investindo Sekuritas.
Investor di pasar saham turut mempertimbangkan kondisi global saat mengambil keputusan di aset berisiko. Karena itu, kenaikan imbal hasil obligasi AS dapat mempertahankan sentimen hati-hati di tengah koreksi IHSG.
Agenda Dalam Negeri Ikut Dipantau
Pasar juga menunggu penyampaian pidato Nota Keuangan dan RAPBN 2027 oleh Presiden Prabowo Subianto. Agenda tersebut menjadi salah satu perkembangan domestik yang akan dicermati pelaku pasar.
Selain itu, Presiden Prabowo berencana memangkas bunga cicilan dan menekan uang muka motor listrik hingga nol persen melalui jaringan perbankan Danantara. Kebijakan itu ditujukan untuk mendorong adopsi kendaraan listrik yang penetrasinya disebut baru mencapai 1 persen.
Pilarmas menilai biaya pembelian awal masih menjadi salah satu hambatan penting bagi pertumbuhan motor listrik. Sekuritas tersebut menyebut penurunan bunga dan penghapusan uang muka berpotensi menjadi katalis positif.
Untuk perdagangan harian, Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan saham PTRO, ANTM, dan PNLF untuk diperhatikan. Rekomendasi itu hadir di tengah pasar yang masih menimbang tekanan teknikal dan perkembangan global.






