Kontribusi BUMN kepada negara setelah memperhitungkan penyertaan modal negara atau PMN mencapai Rp 138 triliun pada 2025. Angka tersebut melonjak 160 persen dari Rp 53 triliun yang tercatat pada 2024.
Lonjakan dividen setelah PMN menjadi salah satu data yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI. Penyampaian itu berlangsung di Jakarta pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Setoran Kotor Juga Meningkat
Sebelum memperhitungkan PMN, setoran dividen BUMN kepada negara pada 2025 tercatat sebesar Rp 142,3 triliun. Nilai itu naik 67 persen dibandingkan setoran Rp 85,5 triliun pada 2024.
Perhitungan setelah PMN menampilkan posisi kontribusi BUMN setelah penyertaan modal negara melalui APBN diperhitungkan. Pada 2024, nilai bersih tersebut berada di Rp 53 triliun sebelum naik menjadi Rp 138 triliun setahun kemudian.
| Tahun | Dividen BUMN | Keuntungan BUMN | Dividen setelah PMN |
|---|---|---|---|
| 2024 | Rp 85,5 triliun | Rp 186 triliun | Rp 53 triliun |
| 2025 | Rp 142,3 triliun | Rp 326 triliun | Rp 138 triliun |
Laba BUMN Menjadi Rp 326 Triliun
Kenaikan setoran itu sejalan dengan pertumbuhan keuntungan BUMN pada 2025 yang mencapai Rp 326 triliun. Angka tersebut tumbuh 75,3 persen dari laba 2024 sebesar Rp 186 triliun.
Nilai laba 2024 itu merupakan hasil koreksi pemerintah terhadap laporan keuntungan sejumlah BUMN. Setelah koreksi dilakukan, Prabowo menyatakan capaian keuntungan pada 2025 diraih tanpa permainan angka.
Prabowo memandang peningkatan tersebut sebagai hasil dari pembenahan manajemen dan tata kelola perusahaan-perusahaan negara. Menurutnya, perbaikan pengelolaan dapat memberikan hasil dalam waktu yang relatif cepat.
“Ini membuktikan dengan manajemen yang akal sehat, dengan niat tidak menipu, keberhasilan kita bisa datang sangat cepat,” kata Prabowo. Pernyataan itu disampaikan saat ia memaparkan perkembangan kinerja perusahaan negara dalam sidang tahunan.
Target Tanpa PMN pada 2026
Pemerintah memperkirakan setoran dividen BUMN dapat kembali meningkat pada 2026. Prabowo memproyeksikan setoran tersebut dapat mencapai Rp 200 triliun tanpa PMN.
Proyeksi itu menempatkan penerimaan dari BUMN sebagai salah satu bagian yang diperhatikan pemerintah dalam agenda penguatan kontribusi perusahaan negara. Kompas.com melaporkan angka dividen 2025 tersebut merupakan setoran kepada negara yang disampaikan Prabowo dalam pidatonya.
Prabowo juga mengapresiasi manajemen dan pimpinan Danantara yang terlibat dalam pembenahan BUMN. Ia menilai pimpinan Danantara pantas memperoleh penghargaan atas kontribusi dalam proses tersebut.
“Sekali lagi saya apresiasi manajemen dan pimpinan Danantara,” ujar Prabowo. Ia menyebut penghargaan yang pantas dapat diberikan kepada pimpinan Danantara dalam suasana peringatan kemerdekaan.
Arah Penggunaan Keuntungan
Keuntungan BUMN disebut tidak semata-mata digunakan untuk memperbesar penerimaan negara. Pemerintah juga mengarahkan keuntungan tersebut untuk mempercepat upaya hilirisasi.
“Keuntungan BUMN sekarang digunakan untuk mempercepat upaya hilirisasi kita,” kata Prabowo. Penjelasan itu menjadi bagian dari rangkaian agenda kenegaraan menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dalam agenda itu, Presiden turut menyampaikan laporan kinerja lembaga negara dan pidato kenegaraan. Peringatan kemerdekaan tahun ini mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”.






