Diet Ketat Bukan Jawaban, Ahli Soroti Camilan dan Metabolisme di Balik Berat Badan Naik

Menurunkan berat badan dengan sangat cepat justru dapat memunculkan keluhan seperti lemas dan pegal. Dokter gizi menekankan bahwa diet perlu dipahami sebagai pengaturan pola makan, bukan perlombaan untuk mencapai hasil dalam waktu sesingkat mungkin.

Pesan ini penting bagi orang yang merasa sudah membatasi makan, tetapi angka timbangan masih meningkat. Kondisi tersebut perlu dilihat dari kebiasaan harian dan respons tubuh secara lebih lengkap.

Diet Bukan Sekadar Mengurangi Makan

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia, Dr. Erwin Kristianto, M.Gizi, SpGK, mengatakan diet mencakup pengaturan waktu dan jumlah makanan yang dikonsumsi. Diet tidak semata-mata berarti melarang seseorang menyantap jenis makanan tertentu.

Menurut Erwin, tubuh tetap membutuhkan energi untuk beraktivitas meski seseorang sedang mengurangi berat badan. Pembatasan asupan yang dilakukan terlalu cepat dapat membuat kebutuhan energi tubuh tidak terpenuhi dengan baik.

“Diet itu jangan diasamakan dengan lomba lari ya. Semakin cepat mencapai finish semakin bagus,” ujar Erwin. Ia menyatakan, penurunan berat badan yang terlalu cepat dapat diikuti lebih banyak keluhan pada tubuh.

Pola diet sehat karena itu perlu disesuaikan dengan kondisi setiap individu. Satu cara yang cocok bagi seseorang belum tentu tepat untuk orang lain.

Rasa Makan Sedikit Bisa Menyembunyikan Pola Lain

Ketua Perhimpunan Studi Obesitas Indonesia, Prof. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., mengingatkan bahwa keluhan makan sedikit tidak selalu menggambarkan seluruh asupan yang masuk. Camilan di luar jadwal makan besar dapat dikonsumsi berulang kali tanpa benar-benar diperhitungkan.

Seseorang mungkin hanya mengingat porsi makanan saat sarapan, makan siang, dan makan malam. Padahal, makanan ringan yang dikonsumsi di sela waktu tersebut dapat menambah total asupan harian.

Dalam diskusi edukasi obesitas di Jakarta Pusat, Dante mengatakan tubuh tidak dapat menjadi gemuk hanya karena udara atau air. “Sebenarnya ada aspek lain tapi biasanya yang mengeluh kayaknya saya makannya sedikit deh. Tapi di luar itu yang tadi serabutan camilan-camilannya mungkin perlu diperhitungkan,” ujarnya.

Pemeriksaan kebiasaan makan pun perlu mencakup pola ngemil, bukan hanya besar kecilnya porsi utama. Pendekatan ini membantu melihat faktor yang berkaitan dengan kenaikan berat badan secara lebih utuh.

Respons Tubuh terhadap Energi Berbeda

Dante menjelaskan bahwa setiap orang memiliki tingkat metabolisme yang tidak sama. Perbedaan tersebut dapat memengaruhi apakah energi dari makanan lebih banyak digunakan tubuh atau disimpan.

Metabolisme yang lebih tinggi membuat lebih banyak makanan yang masuk dibakar untuk proses pencernaan. Sebaliknya, pada tingkat metabolisme yang lebih rendah, sebagian energi dapat lebih banyak disimpan oleh tubuh.

Penjelasan ini tidak berarti metabolisme menjadi satu-satunya penyebab perubahan berat badan. Kebiasaan makan, aktivitas, dan kondisi tubuh tetap perlu dipertimbangkan dalam penanganan obesitas.

Jangan Menunggu Penyakit Muncul

Ketua Umum Perhimpunan Endokrinologi Indonesia, Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD., mengingatkan masyarakat agar tidak baru memperhatikan berat badan setelah penyakit muncul. Pemantauan perubahan tubuh dapat dilakukan dengan mengukur berat badan dan lingkar perut.

Pemeriksaan kesehatan yang tersedia juga dapat dimanfaatkan untuk memahami kondisi tubuh. Dengan cara ini, perhatian tidak hanya terpusat pada angka timbangan, melainkan juga pada kebiasaan dan faktor kesehatan yang menyertainya.

Baca Juga