Bukan Sekadar Udara Panas, Debu Kering dan Emisi Membuka Risiko ISPA

Udara panas saat kemarau sering menjadi keluhan utama, padahal ada risiko lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan. Debu, emisi pembakaran, dan polutan lain dapat lebih mudah masuk ke saluran pernapasan ketika kondisi udara semakin kering.

Paparan tersebut dapat memicu iritasi dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Risiko ini menjadi lebih besar ketika kualitas udara menurun bersamaan dengan meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan.

Polutan Tidak Selalu Menimbulkan Dampak yang Sama

Ahli kesehatan Prof Budi Haryanto menjelaskan bahwa udara kering dapat memperburuk mutu udara. Debu dan emisi dari beragam sumber menjadi lebih mudah terhirup serta berpotensi mengganggu sistem pernapasan.

Namun, paparan polutan tidak otomatis menyebabkan infeksi pada semua orang. Daya tahan tubuh menjadi faktor yang ikut menentukan bagaimana tubuh menghadapi zat pencemar yang masuk melalui udara.

“Karena itu masuk ke dalam tubuh manusia, tergantung orangnya. Daya tahan tubuhnya lagi bagus atau tidak,” kata Prof Budi dalam laporan Beritasatu.com.

Menurutnya, kondisi tersebut kemudian dapat berhubungan dengan infeksi pada saluran napas, termasuk ISPA. Polutan dapat memperparah iritasi, sementara virus atau bakteri memperoleh peluang lebih besar untuk masuk ke area pernapasan.

Gangguan pernapasan selama kemarau karena itu tidak hanya berkaitan dengan debu yang terlihat di lingkungan. Emisi yang tidak selalu tampak juga dapat memperburuk kualitas udara dan menambah paparan bagi masyarakat.

Cuaca Panas Berkaitan dengan Risiko Kebakaran

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mengingatkan adanya beragam risiko kesehatan pada musim kemarau. Risiko itu mencakup gangguan akibat suhu tinggi serta dampak dari pencemaran udara yang memburuk.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa tutupan awan yang lebih sedikit dapat membuat suhu udara meningkat. Paparan suhu tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk sengatan panas.

Di sisi lain, suhu yang meningkat berkaitan dengan potensi kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran menghasilkan asap yang dapat menambah konsentrasi polutan di udara dan memperbesar beban bagi saluran pernapasan.

Asap karhutla tidak hanya membawa partikel pencemar, tetapi juga sejumlah senyawa yang berisiko bagi kesehatan. Prof Budi menyebut karbon monoksida, metana, nitrogen oksida, dan sulfur dioksida sebagai kandungan yang dapat terdapat dalam asap tersebut.

Dampak Asap Tidak Terbatas pada Infeksi Pernapasan

Jika terhirup dalam jumlah tertentu, senyawa dari asap kebakaran berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan yang lebih luas. Dampaknya tidak hanya terbatas pada infeksi atau keluhan di saluran pernapasan.

“Paparan senyawa tersebut berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan yang lebih luas, tidak hanya berupa infeksi atau gangguan pada saluran pernapasan,” ujar Prof Budi. Pernyataan ini menegaskan pentingnya memperhatikan perubahan kualitas udara ketika asap mulai muncul.

Rasa panas dan udara kering selama kemarau dapat menjadi bagian dari rangkaian risiko yang lebih besar. Berkurangnya awan, naiknya suhu, potensi kebakaran, serta peningkatan polusi udara dapat saling memperburuk situasi.

Perhatian terhadap kondisi udara menjadi penting ketika debu, emisi, dan asap kebakaran meningkat. Risiko kesehatan dipengaruhi oleh tingkat paparan polutan, kondisi saluran pernapasan, dan daya tahan tubuh masing-masing orang.

Baca Juga