Dari Gelar 2016 ke Kasta Ketiga, Leicester City Siap Berganti Pemilik

Perjalanan Leicester City berubah tajam dalam satu dekade terakhir. Klub yang mengangkat trofi Premier League pada 2016 kini menghadapi degradasi ke League One dan rencana pergantian kepemilikan.

Keluarga Srivaddhanaprabha dilaporkan membuka tawaran penjualan di tengah tekanan keuangan yang terus membesar. Harga awal yang ditawarkan mencapai 222 juta Pounds atau sekitar Rp 5,4 triliun.

Kontras ini terasa kuat karena Leicester pernah menjadi simbol kejutan terbesar dalam kompetisi sepak bola Inggris. Klub tersebut juga sempat menambah prestasi dengan memenangi Piala FA pada 2021.

Dari Era Vichai hingga Project Lineup

Leicester dibeli oleh Vichai Srivaddhanaprabha pada 2010. Di bawah kepemimpinannya, klub berkembang hingga menjadi juara liga pada 2016.

Vichai meninggal dalam kecelakaan helikopter di dekat Stadion King Power pada 2018. Kepemilikan klub kemudian diteruskan oleh anak-anaknya, termasuk Aiyawatt Srivaddhanaprabha.

Rencana penjualan saat ini disusun dalam proposal yang disebut Project Lineup. Detik Sport menyebut nilai seluruh aset dalam paket tersebut ditaksir mencapai 204 juta Pounds.

Penawaran itu meliputi lebih dari sekadar tim utama dan status kepemilikan klub. Aset pendukung yang penting bagi operasional Leicester juga dimasukkan ke dalam paket.

Aset dalam PaketPeran
Stadion King PowerStadion kandang
SeagravePusat latihan
Belvoir DriveFasilitas klub
Leicester CityKlub sepak bola

Tekanan Keuangan yang Menumpuk

Keputusan menawarkan klub untuk dijual datang ketika beban keuangan disebut tidak lagi mudah ditahan. Sejak 2021, Leicester dikabarkan terus mencatatkan kondisi keuangan di zona merah.

Kerugian berulang terjadi dalam beberapa periode terakhir. Angka itu muncul sebelum klub menghadapi dampak lanjutan dari berkurangnya pemasukan setelah turun kasta.

Periode CatatanKerugian
Periode sebelumnya92,5 juta Pounds
Periode sebelumnya89,7 juta Pounds
Periode sebelumnya19,4 juta Pounds
Kerugian terbaru71,1 juta Pounds

Beban gaji pemain yang tinggi menjadi salah satu faktor tekanan tersebut. Strategi transfer yang tidak efektif dan penurunan pendapatan pada masa pandemi juga memperburuk situasi.

Leicester kembali menghadapi persoalan saat bermain di Divisi Championship musim 2025/26. Klub dikenai pengurangan poin karena pelanggaran aturan Profitabilitas dan Keberlanjutan atau PSR.

Konsekuensi Degradasi

Pengurangan poin itu berujung pada degradasi Leicester ke League One untuk musim 2026/27. Penurunan ke kasta ketiga membuat klub harus menghadapi tantangan kompetitif sekaligus finansial.

Hilangnya pemasukan setelah degradasi menjadi salah satu persoalan utama dalam kondisi klub saat ini. Calon pemilik yang masuk melalui Project Lineup akan mengambil alih Leicester dalam situasi yang jauh berbeda dari masa kejayaan 2016.

Baca Juga