Siswa SD Tak Seharusnya Membaca Terlalu Dekat, Buku Pelajaran Mulai Dievaluasi

Temuan tulisan kecil pada buku pelajaran membuat perhatian pemerintah tertuju pada cara siswa membaca di ruang kelas. Siswa SD disebut harus membaca dari jarak sangat dekat karena ukuran huruf pada sejumlah buku dinilai terlalu kecil.

Masalah itu tidak berdiri sendiri karena kondisi fisik buku juga mendapat sorotan. Ada buku yang berbahan mudah rusak, bahkan sebagian sudah ditemukan dalam keadaan rusak saat diperiksa.

Pemeriksaan Buku oleh Presiden

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto memeriksa buku pelajaran satu per satu. Keterangan itu disampaikan melalui unggahan akun Instagram resmi @sekretariat.kabinet pada Senin (10/8/2026).

Menurut Teddy, pemeriksaan tersebut menemukan persoalan pada daya tahan bahan dan ukuran tulisan. Kondisi itu mendorong perhatian agar buku sekolah lebih layak digunakan oleh peserta didik.

“Saat mengecek buku pelajaran, itu beliau lihat satu per satu, kemudian kok ada yang bahannya mudah rusak, ada yang sudah rusak juga, kemudian tulisannya kecil-kecil, sehingga anak-anak SD khususnya bacanya sangat dekat,” kata Teddy.

Sorotan ini memperluas makna pembaruan buku sekolah. Pemerintah tidak hanya menilai ketepatan isi materi, tetapi juga kemudahan siswa dalam membaca dan memakai buku setiap hari.

Pembaruan Sudah Separuh Jalan

Kemendikdasmen menyatakan proses pembaruan buku untuk jenjang SD hingga SMA telah mencapai sekitar 50 persen. Buku yang diperbarui masih harus menjalani penelaahan dan pengendalian mutu sebelum diterapkan di sekolah.

Tahap kerja yang dilakukan meliputi evaluasi buku yang digunakan saat ini, identifikasi bagian yang perlu diperbaiki, dan penyempurnaan substansi. Pemeriksaan juga mencakup kualitas penyajian agar hasil akhir sesuai kebutuhan peserta didik.

Aspek fisik yang diperiksa mencakup ukuran huruf, ilustrasi, desain, keterbacaan, dan kualitas hasil cetak. Penyesuaian itu ditujukan agar buku lebih nyaman dibaca serta sesuai dengan usia dan jenjang siswa.

Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen, Toni Toharudin, mengatakan perhatian terhadap keterbacaan menjadi bagian penting dari arahan Presiden. Buku perlu dirancang dengan mempertimbangkan karakter pengguna, bukan hanya kelengkapan materi.

Isi Buku Juga Diperkuat

Selain desain dan cetakan, pemerintah memperkuat substansi dalam buku pelajaran. Penguatan diarahkan untuk mendukung literasi, numerasi, sains, pendidikan karakter, dan pembelajaran mendalam atau deep learning.

Materi baru diharapkan lebih kontekstual bagi peserta didik. Penyesuaian substansi juga dimaksudkan agar isi buku tetap sejalan dengan kebijakan pendidikan nasional dan kebutuhan pembelajaran di sekolah.

Toni menjelaskan pembahasan pembaruan buku cetak sebenarnya sudah dimulai sejak lama. Arahan Presiden kemudian memperkuat proses evaluasi yang telah disiapkan oleh Kemendikdasmen.

“Ini bukan sekadar mengganti buku, tetapi melakukan penyesuaian dan penguatan substansi agar isi buku benar-benar relevan dengan arah kebijakan pendidikan ke depan,” kata Toni.

Dengan begitu, pembaruan buku sekolah menyatukan dua kebutuhan utama, yaitu materi yang relevan dan penyajian yang ramah siswa. Pemerintah akan melanjutkan proses pengujian mutu sebelum buku tersebut digunakan dalam pembelajaran.

Baca Juga