Yuna Mati Diduga karena EEHV, Nasib Gajah Sumatera Kian Mengkhawatirkan

Yuna, anak gajah betina berusia di bawah tiga tahun, mati di Pusat Latihan Gajah Saree, Aceh, pada 11 Agustus 2026. Kondisinya memburuk sangat cepat dan diduga kuat berkaitan dengan infeksi Elephant Endotheliotropic Herpesvirus atau EEHV.

Kematian Yuna terjadi hanya dua hari setelah seekor gajah jantan ditemukan mati di perkebunan sawit Aceh Tamiang. Dua peristiwa menjelang Hari Gajah Sedunia itu mempertegas risiko yang dihadapi gajah Sumatera, yang populasinya di alam liar terus menyusut.

Kondisi Yuna Berubah dalam Satu Sore

Pada pagi hari, Yuna dilaporkan masih aktif beraktivitas di pusat latihan gajah. Namun, sekitar pukul 16.00 WIB, anak gajah itu mulai terlihat lemas.

Mata dan wajahnya membengkak, sedangkan lidahnya membiru. Yuna kemudian mati pada pukul 20.48 WIB.

Kepala BKSDA Aceh Ujang Wisnu Barata menyebut kondisi Yuna “drop sangat cepat” dalam keterangan yang dikutip dari laman Kementerian Kehutanan. EEHV merupakan virus yang merusak lapisan dalam pembuluh darah dan sangat rentan menyerang anak gajah.

Kasus Yuna menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesehatan anak gajah. Kerentanan usia muda membuat perubahan kondisi kesehatan dapat berlangsung dalam waktu singkat.

Gajah Jantan Ditemukan Mati di Jalur Perkebunan

Kasus lain terjadi pada 9 Agustus 2026 di perkebunan kelapa sawit PT MPLI, Kampung Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang. Seekor gajah jantan ditemukan tergeletak di jalan di antara tumpukan pohon sawit di Afdeling B Blok 34.

Pekerja perkebunan menemukan bangkai tersebut sekitar pukul 12.00 WIB. Mereka lalu melaporkan temuan itu kepada kepolisian, yang kemudian meneruskannya kepada BKSDA Aceh.

PeristiwaLokasiTanggalStatus Awal
Gajah jantan matiPT MPLI, Aceh Tamiang9 Agustus 2026Penyebab belum dipastikan
Yuna matiPusat Latihan Gajah Saree11 Agustus 2026Diduga terinfeksi EEHV

Petugas tidak menemukan tanda perburuan pada tubuh gajah jantan itu. Gadingnya masih utuh dan tidak terlihat luka fisik luar pada tubuhnya.

Tim dokter hewan dari BKSDA Aceh melakukan nekropsi di lapangan untuk memastikan penyebab kematiannya. Ujang Wisnu Barata mengatakan hasil pemeriksaan belum diterima ketika informasi awal disampaikan.

“Tim melakukan bedah bangkai atau nekropsi di lapangan. Jadi, kami belum menerima hasilnya dan kami belum bisa memastikan penyebab kematiannya,” kata Ujang, seperti dikutip Kompas.com dari Antara.

Angka Populasi Memperlihatkan Tekanan yang Berat

Kementerian Kehutanan memperkirakan populasi gajah Sumatera pada Juli 2026 hanya sekitar 1.100 ekor. Jumlah itu menurun jauh dibandingkan estimasi 2.400 hingga 2.800 ekor pada 2007.

Dalam periode November 2025 sampai Juni 2026, kementerian tersebut juga mencatat sedikitnya enam gajah mati. Gajah Sumatera atau Elephas maximus sumatranus saat ini berstatus terancam kritis.

Prof. Burhanuddin dari IPB University memperkirakan jumlah gajah Sumatera menyusut lebih dari 70 persen dalam tiga generasi. Populasi di alam liar secara umum diperkirakan tersisa sekitar 900 sampai 1.350 individu.

Habitat Terpecah Memperbesar Risiko Konflik

Penyempitan dan fragmentasi habitat menjadi ancaman utama bagi kelangsungan gajah Sumatera. Pembangunan jalan, perubahan hutan menjadi perkebunan dan pertambangan, perluasan permukiman, serta aktivitas manusia membatasi ruang jelajahnya.

Ruang hidup yang makin sempit meningkatkan kemungkinan perjumpaan dan konflik antara manusia dengan gajah. Penanganan kematian di Aceh menjadi penting, tetapi perlindungan habitat tetap menentukan keberlangsungan populasi dalam jangka panjang.

Baca Juga