Trump Naik Pesawat Lebih Kecil Usai Secret Service Mendeteksi Ancaman Rudal

Donald Trump dipindahkan ke pesawat pemerintah yang lebih kecil setelah Secret Service menilai terdapat ancaman rudal kredibel terhadap presiden AS di Ankara. Keputusan itu diambil secara cepat pada 8 Juli 2026, ketika Trump akan meninggalkan Turki usai menghadiri KTT NATO.

Langkah tersebut memunculkan ironi karena Trump justru menilai pesawat yang ditumpanginya memiliki risiko lebih besar daripada Air Force One. “Saya sebenarnya berpikir pesawat yang saya tumpangi memiliki risiko lebih besar,” ujar Trump kepada wartawan tanpa memberikan bukti lebih lanjut.

Trump mengatakan pesawat yang lebih kecil mungkin menjadi target yang lebih mudah dituju. “Menurut saya, risikonya lebih besar karena itu adalah pesawat yang kemungkinan besar akan mereka incar,” kata Trump.

Secret Service memilih perpindahan tersamar

Meski demikian, tim pengamanan tetap memutuskan memindahkan Trump dari Air Force One ke C-32A. Perpindahan itu dilakukan dengan cara yang tidak lazim, yakni menggunakan truk katering di area bandara.

Sumber Reuters menyatakan Secret Service tidak memiliki cukup waktu untuk menjalankan persiapan standar perjalanan presiden. Ancaman yang muncul dinilai cukup mendesak sehingga rencana pengamanan harus dirancang dalam waktu sangat terbatas.

Truk katering dipakai agar aktivitas perpindahan Trump tidak menarik perhatian. Kerahasiaan menjadi unsur penting karena ancaman berkaitan dengan kemungkinan serangan terhadap pesawat yang membawa presiden.

Penerbangan kepresidenan dipisahkan

C-32A yang membawa Trump diterbangkan menuju Inggris untuk mengisi bahan bakar. Pesawat itu membawa sejumlah ajudan dekat, termasuk Dan Scavino, Natalie Harp, dan Walt Nauta.

Air Force One tidak dihentikan dari rute perjalanannya dan tetap berangkat secara terpisah. Pesawat kepresidenan tersebut membawa pejabat senior, staf Gedung Putih, serta 13 wartawan yang mengikuti agenda presiden.

PesawatPenumpangStatus Penerbangan
C-32ADonald Trump, Dan Scavino, Natalie Harp, Walt NautaMenuju Inggris untuk pengisian bahan bakar
Air Force OneMarco Rubio, Scott Bessent, Steven Cheung, staf dan wartawanTerbang secara terpisah

Menteri Luar Negeri Marco Rubio berada di dalam Air Force One bersama Menteri Keuangan Scott Bessent dan Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung. Rubio telah diberi tahu mengenai manuver pengamanan yang memisahkan penerbangan Trump dari rombongan utama.

Pemisahan itu memungkinkan perlindungan terhadap Trump dilakukan tanpa membeberkan seluruh rincian operasi selama perjalanan berlangsung. Langkah tersebut terjadi ketika hubungan Amerika Serikat dan Iran sedang berada dalam situasi yang menegang.

Rudal pencari panas dinilai sulit dideteksi

Douglas Birkey, Direktur Eksekutif Mitchell Institute for Aerospace Studies, mengatakan ancaman itu mungkin berasal dari rudal pencari panas atau heat-seeking. Sistem tersebut dapat mengunci sasaran melalui panas yang dipancarkan mesin pesawat.

Birkey menjelaskan bahwa rudal pencari panas tidak memancarkan gelombang radio seperti sistem berbasis radar. Karakter itu membuat keberadaannya lebih sulit dideteksi dan serangan berpotensi terjadi tanpa peringatan radar yang cepat terbaca.

Ia menyebut SA-67 buatan Iran serta 9K333 Verba dari Rusia sebagai contoh senjata dengan teknologi sejenis. Dalam kondisi ancaman mendesak, penyamaran perpindahan melalui truk katering dipandang sebagai langkah pengamanan yang paling masuk akal.

Baca Juga